SIKSA KUBUR

 

Suara    Rintihan   Suara  Tangisan

Insan   Yang  Berdosa  oh  oh

Didalam kuburnya.

 

 

Hancur   Lebur    Tulangnya

Serta    hangus  tubuhnya

Hancur  lebur  Tulangnnya

Serta  hangus  tubuhnya

Karena  dihimpit  bumi  dan  dibakar api  2x

Sebagai  balasan   hoo  dosa   yang  dilakukan

Menjalani  siksa  didalam  kuburnya – menjalani siksa

Hooo  didalam  kuburnya

 

 

 

 

 

 

 

MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENYAMBUT RAMADHAN

Adalah Rasul SAW yang mempersiapkan diri betul menyambut kedatangan setiap bulan Ramadhan.

Persiapan Rasul tersebut bukan hanya bersifat jasmani, melainkan paduan jasmani dan rohani mengingat puasa sebagaimana ibadah yang lain adalah paduan ibadah jasmani dan rohani, di samping ibadah yang paling berat di antara ibadah wajib (fardu) lainnya.

Oleh sebab itu, ia disyariatkan paling akhir di antara ibadah wajib lainnya. Persiapan jasmani tersebut dilakukan oleh Rasul SAW melalui puasa Senin-Kamis dan puasa hari-hari putih (tanggal 13,14 dan 15) setiap bulan sejak bulan syawal hingga Sya’ban.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW senantiasa puasa Senin dan Kamis. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasul, engkau senantiasa puasa Senin dan Kamis.”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya pada setiap hari Senin dan Kamis Allah SWT mengampuni dosa setiap Muslim, kecuali dua orang yang bermusuhan. Allah berfirman, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai keduanya berdamai’.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam kaitannya dengan puasa tiga hari setiap bulan, Rasul SAW bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari RA, “Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa setiap bulan, maka puasalah tanggal 13,14 dan 15.” (HR. Tirmidzi).

Sedangkan persiapan rohani dilakukan oleh Rasul SAW melalui pembiasaan shalat tahajud setiap malam serta zikir setiap waktu dan kesempatan. Bahkan, shalat tahajud yang hukumnya sunah bagi kaum Muslimin menjadi wajib bagi pribadi Rasul SAW.

Diriwayatkan oleh Aisyah RA yang bertanya kepada Rasul SAW mengenai pembiasaan ssalat tahajud, padahal dosa-dosa beliau telah diampuni oleh Allah SWT, Rasul SAW menjawab dengan nada yang sangat indah, “Apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Memasuki bulan Sya’ban, Rasul SAW meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah puasa, qiyamul lail, zikir dan amal salehnya. Peningkatan tersebut dikarenakan semakin dekatnya bulan Ramadhan yang akan menjadi puncak aktifitas kesalehan dan spiritualitas seorang Muslim.

Jika biasanya dalam sebulan Rasul SAW berpuasa rata-rata 11 hari, maka di bulan Sya’ban ini beliau berpuasa hampir sebulan penuh. Dikisahkan oleh Aisyah RA bahwasanya, “Rasulullah banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) sehingga kita mengatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat Usama bin Zayed RA dikatakan, “Aku bertanya kepada Rasul, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’ Beliau menjawab, ‘Sya’ban adalah bulan yang dilupakan manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah SWT dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa’.” (HR. An-Nasa’i).

Sya’ban adalah bulan penutup rangkaian puasa sunah bagi Rasulullah SAW sebelum berpuasa penuh di bulan Ramadhan. Jika Rasul telah mempersiapkan penyambutan Ramadhan dengan berpuasa minimal 11 hari di luar Sya’ban dan 20-an hari di bulan Sya’ban, berarti untuk menyambut Ramadhan Rasulullah SAW telah berpuasa paling sedikitnya 130 hari atau sepertiga lebih dari jumlah hari dalam setahun.

Maka, hanya persiapan yang baiklah yang akan mendapat hasil yang baik, dan demikian pula sebaliknya. Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk mempersiapkan diri di bulan Sya’ban sehingga memperoleh hasil yang maksimal di akhir Ramadhan.

 

dikutip kembali dari republika online Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

amalan bulan rajab

Sabda RASULULLAH SAW

“Bulan Rajab adalah Bulannya ALLAH TA’ALAA”

Biasanya para ulama’ sholafussholeh mengamalkan Amalan shunnah di bulan Rajab, adapun amalan puasa Rajab yang mengandung pahala yang banyak adalah sebagai berikut ;

1. Barangsiapa yang berpuasa tanggal 1, 2, 3 Rajab maka Pahalanya mendapatkan ke-Ridhaan serta keMuliaan di sisi ALLAH TA’ALAA
2. Barangsiapa yang berPuasa 5 hari maka Doa’nya akan di-Qobulkan ALLAH TA’ALAA
3. Barangsiapa yang berPuasa 7 hari maka akan di-Tutup 7 Pintu Neraka
4. Barangsiapa yang berPuasa 8 hari maka d’Bukakan 8 Pintu Surga
5. Barangsiapa yang berPuasa 15 hari maka di-ampuni Dosa-dosa yang lalu dan mengganti kejahatannya dengan Kebaikan di-Sisi ALLAH TA’ALAA
6. Barangsiapa yang berPuasa tanggal 27 Rajab maka Pahalanya seperti 5 Tahun ber-Puasa

Adapun niat puasa Rajab adalah :

“NAWAITU SHAUMA RAJAB LILLAHI TA’ALAA”
(Saya Niat Puasa Sunnah Rajab karena LILLAHI TA’ALAA)

Amalan Wiridan di Bulan Rajab

  1. Membaca: RobbighfirLi Warhamni Watub Alayya (70x tiap Pagi & Sore)
  2. Pada tanggal 1 sampai dengan 10 Rajab, membaca: SubhaanaLLahiL HayyiL Qoyyum (100x)
  3. Tanggal 11 sampai dengan 20 Rajab, membaca: SubhaanaLLahiL Ahadish’Shomad (100x)
  4. Tanggal 21 sampai dengan 30 Rajab, membaca: SubhaanaLLahir Rouuf (100x)

5. Membaca Surat AL-IkhLas (11x)

      6. Membaca: Ahmadu Rasulullah wa’Muhammadu Rasulullah (35x d’Hari Jum’at terakhir Bulan RajaB)

Sabda RASULULLAH SAW:

“Pada Malam MI’RAJ, Saya (SAW) melihat Sungai yang Airnya lebih Manis dari Madu, lebih Sejuk dari Air Batu, lebih Harum dari Minyak Wangi dan Saya (SAW) berkata kepada JIBRIL AS
“Wahai JIBRIL, untuk Siapakah Sungai ini..?
maka JIBRIL AS menjawab:
“Sungai ini adalah untuk Umat-Mu yang ber-Shalawat kepada-Mu di-Bulan RAJAB

Semooga kita bisa menjalankan nya…amiin…

Sumber : KItab Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, dan buku lathaiful ma’arif

 

Simak di: http://www.sarkub.com/2016/selamat-datang-bulan-rajab/#ixzz45ZIjO0Xx
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

KEADAAN MAYAT DALAM KUBUR

Dream – Tahukah kalian bagaimana keadaan mayat setelah ia dikuburkan? Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ada berbagai macam keadaan mayat di dalam kuburnya. Misalnya ada yang menangis dan tertawa, serta ada yang disempitkan dan dilapangkan kuburnya.

Sebelum mayat mengalami peristiwa-peristiwa di alam kuburnya seperti pertanyaan dari malaikat, mendapatkan azab atau nikmat kubur dan lain sebagainya.

Ternyata mayat sudah mengalami hal-hal ghaib yang tidak mampu ditangkap oleh panca indra manusia. Misalnya pada saat jenazah dikebumikan, maka orang-orang disekitarnya tidak bisa mengetahui apa yang dialami oleh saudaranya yang telah makan tersebut.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda; “Apabila jenazah telah dibawa oleh orang-orang di atas pundak-pundak mereka (menuju kubur), seandainya pada masa hidupnya ia adalah orang yang shalih, ia akan mengatakan, “Segerakanlah aku!! segerakanlah aku!!”

Namun jika ia dahulu orang yang tidak shalih, ia akan mengatakan, “Celaka! Hendak kemana kalian membawa jenazah ini! Seluruh makhluk mendengar suara tersebut kecuali manusia, andaikata seseorang mendengarnya, pasti dia akan pingsan.” (HR. Bukhari, no. 1314)

Di mana pada saat itu posisi mayat sangat dekat dengan orang-orang yang masih hidup yaitu dipikul di atas punda-pundak pembawa jenazah, namun hal itu tidak membuat orang-orang disekitarnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh si mayat disebabkan dimensi mereka sudah berbeda.

Kemudian dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya apabila mayat telah dikuburkan, maka dia mendengar derap alas kaki orang yang mengantarkannya ketika kembali dari tempat pemakaman.

Dan jika ia seorang mukmin, maka ibadah salatnya akan berada di kepalanya, ibadah puasanya berada disamping kanannya dan zakat di sebelah kirinya. Sedangkan seluruh perbuatan baiknya seperti sedekah, silahturahim, damalan yang ma’ruf dan perlakuan baiknya akan berada di kedua kakinya.

Kemudian ia didatangi dari arah kepalanya, maka amalan salatnya berkata “Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini)”. Lalu ia juga didatangi dari sebelah kanan sehingga amalan puasanya pun berkata, “Tidak ada tempat dari arahku.” Selanjutnya ia kembali didatangi dari arah-arah lainnya, namun semuanya mengatakan hal yang sama, “Tidak ada tempat dari arahku”.

Selanjutnya dikatakan kepadanya, “Duduklah dengan tenang”. Kemudian orang mukmin itu duduk dan ia diibaratkan seperti matahari yang tenggelam. Dan para malaikat akan bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu katakan tentang lelaki yang diutus kepada kalian (maksudnya adalah Nabi Muhammad) ? Lantas apa yang engkau persaksikan atasnya ? Maka orang mukmin itu menjawab, “Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan salat terlebih dahulu.”

Kemudian dikatakan kepadanya, “Engkau boleh mengerjakannya, namun jawablah terlebih dahulu pertanyaan yang kami ajukan kepadamu. Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berada ditengah-tengahmu, lantas apa komentarmu ? Apa yang engkau persaksikan atasnya ?”
Maka orang mukmin itu menjawab, “Lelaki itu adalah Muhammad, aku bersaksi bahwa dia itu Rasulullah, dan dia telah datang kepada kami dengan membawa kebenaran dari sisi Allah SWT.”
Kemudian dikatakan kepada mayat itu, “Kamu benar, dan kamu telah hidup berdasarkan keyakinan ini, dan meninggal dunia juga dengan keyakinan ini dan akan dibangkitkan berdasarkan keyakinan ini Insya Allah.”
Selanjutnya dibukakan untuknya salah satu dari beberapa pintu surga, dan dikatakan kepadanya, “Inilah tempat tinggalmu dan segala isinya telah dipersiapkan Allah untukmu. Oleh karena itu sang mayit pun merasa lebih bahagia dan gembira.
Kemudian setelah itu dibukakan untuknya salah satu dari beberapa pintu neraka, sambil dikatakan bahwa “Inilah tempat tinggalmu dengan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah jika kamu berbuat maksiat kepadanya. Maka ia akan semakin merasa bergembira dan bahagia karena tidak termasuk golongan ahli maksiat.
Selanjutnya kuburan si mayat itu dilapangkan sepanjang 70 hasta, dan diberikan lampu penerang dan jasadnya pun dikembalikan seperti semula kemudian ruhnya diletakkan ke dalam burung yang bertengger di atas pohon dalam surga.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,
“Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan al qauluts tsabit (ucapan yang teguh) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS.Ibrahim: 27).
Akan tetapi jika si mayat tersebut adalah seorang kafir, maka ia akan didatangi dari arah kuburnya dan tidak ditemukan sesuatu apapun yang bisa melindunginya. Dan begitu selanjutnya dari arah lainnya. Maka dikatakan kepadanya “Duduklah”. Lantas ia pun duduk dengan perasaan takut dan gelisah. Kemudian ditanyakan kepadanya, “‘Apa yang dulu kamu katakan tentang laki-laki yang berada di tengah-tengah kalian?”
Dimana pada saat itu ia telah diberi petunjuk tentang nama lelaki tersebut, yaitu Nabi Muhammad SAW. Namun orang kafir itu pun menjawab “Aku tidak tahu, memang dulu aku mendengar orang-orang telah mengatakan sesuatu, maka aku pun ikut-ikutan mengatakan apa yang mereka katakan.”
Setelah itu dikatakan kepadanya, “Berdasarkan ketidaktahuan inilah kamu menjalani hidup, dan berdasarkan keraguan inilah kamu mati, dan berdasarkan keraguan inilah kamu akan diabngkitkan dari kubur, Insya Allah”.
Setelah itu dibukakan untuknya salah satu pintu neraka dan dikatakan kepadanya, “Inilah tempat tinggalmu di neraka dengan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah untukmu.” Sehingga ia merasa rugi dan menyesal. Selanjutnya dibukakan untuknya salah satu dari pintu-pintu surga dan dikatakan kepadanya. Dan inilah tempat tinggalmu di surga jika kamu taat kepada Allah SWT. Sehingga semakin menyesal dan merugilah si mayit tersebut.”
Selanjutnya disempitkan kuburannya hingga tulang-tulang rusuknya saling bertindih dan menjadi ringsek. Dan itulah kehidupan sempit yang telah disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS.Thaha: 124).” [ HR. Ibnu Hibban, 777; Mawarid al-Hakim, 1/379.] (Diedit kembali dari yahoo)

HAKIKAT LAILAAHA ILLALLAH

Beberapa malam yang lalu saya silaturahmi ke rumah Guru saya di Ponpes Albashori Magetan. Dalam silaturahim itu saya mendapat tambahan ilmu tentang hakikat kalimat tauhid. Beliau menceritakan bagaimana amalan kalimat ini diijazahkan kepada para sahabt yang kemudian menjelma dan diajarkan serta diamalkan oleh sebagian umat Islam yang yang tergabung dalam Tariqoh Sathariyah. Dalam Penjelasannya guru saya menyampaikan bahwa Rosululloh mengijazahkan bacaan kalimat Laailaahaillallah untuk diamalkan oleh sahabat Abu Bakar Ashidiq. Kepada Sahabat Umar Rosululloh mengijazahkan kalimat ILLALLAH. Kepada sahabat Utsman Nabi SAW mengijazahkan kalimat ALLAH dan kepada sahabat Ali Karomallohu wajhah diijazahi kalimat HUWA, dlamir dari lafadz Allah dimana huwa itu kembali kepada dzat Allah.

Inilah asal usul kenapa ada sebagian umat Islam jika berdzikir tidak cuma kalimat tahlil. Tapi kalimat tersebut dipreteli sampai dzikir HUWA. Bagi orang yang tidak tahu biasanya mereka menganggap amalan ini membngungkan. wong dzikir kok dipecah2.

Mungkin orang yang tidak tahu juga bertanya-tanya kenapa kalau membaca kalimat tahlil kok harus menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. ternya gerakan kepala itu mengikuti kalimat tauhid itu sendiri. Di awali dari pundak kiri ke pundak kanan dan diakhiri di dada sebelah kiri menunjukkah bahwa Allah bersemayam di hati manusia.

KISAH TELADAN SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Suatu hari ketika Syekh Abdul Qadir menginjak usia 17 tahun, ia ingin mencari ilmu di Baghdad. Pada malam harinya, ibundanya menasehati dirinya. “Wahai anakku, pesan ibu hanya satu sebelum besok kau melangkahkan kakimu mencari ilmu, jujurlah selama engkau mencari ilmu, tidak hanya waktu mencari ilmu, tetapi selamanya kau harus jujur. Ibu memberimu bekal 80 dirham emas yang kuletakkan di saku bajumu dan kujahit agar tidak jatuh.”

Keesokan harinya, Abdul Qadir berpamitan kepada ibundanya untuk menuntut ilmu di Baghdad. Di tengah perjalanan, ternyata beliau dicegat perampok. Perampok itu berkata, “Hai pemuda, berhenti! Kau mau pilih nyawa atau harta?”

Abdul Qadir menjawab, “Aku memilih harta dan nyawaku”.

Perampok itu bertanya kembali, Wahai pemuda apa kau membawa harta?”

Dengan tetang Abdul Qadir menjawab, “Ya aku membawa uang yang jumlahnya 80 dirham emas di sakuku”.

mendengar jawaban Abdul Qadir, perampok itu bergetar dan nyaris pingsan. Karena, sejak ia menjadi perampok baru sekali ada korban perampokan yang menjawab jujur apa adanya. Perampok itu kemudian membawa Abdul Qadir menemui pimpinannya.

Pimpinan perampk itu datang menemui Abdul Qadir dan berkata, “Wahai pemuda, benarkah kau membawa uang 80 dirham emas?”.

Dengan santai Abdul Qadir menjawab, “Ya, aku membawa 80 dirham emas dan berada disakuku yang dijahit ibuku semalam.

Mendengar uraian Abdul Qadir, pimpinanperampok itu juga kaget dan penuh tanya dalam batinya. Mengapa ada seorang yang mau dirampok malah menunjukkan harta miliknya? Biasanya, orang yang akan dirampok pura-pura (berbohong) tidak memiliki apa-apa dan baru menyerah ketika sudah dipukuli atau dianiaya. Keanehan ini oleh pimpinan perampok dijadikan materi untuk bertanya selanjutnya, “Wahai pemuda! Siapa namamu, dan mengapa engkau berkata jujur kepada kami? Bukankah kau tahu bahawa kami akan merampok harta milikmu?.

Namaku Abdul Qadir, aku mau pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu, dan semalam ibuku berpesan agar aku tidak boleh berbohong. Aku harus jujur dalam keadaan apapun agar ilmu yang ku peroleh nanati bermanfaat bagi kehidupanku. Aku takut hanya mempertahankan uang 80 dirham emas, nyawaku melayang atau kalau aku selamat ilmuku tidak bermanfaat (tidak berkah).” Demikian jawaban Abdul Qadir dengan tegas.

Mendengar uraian panjang Abdul Qadir pimpinan perampok itu langsung sujud dan memohon untuk dijadikan muridnya. Sungguh dahsyat kekuatan sifat jujur ini. Subhanallah………………………