KISAH TELADAN SYEIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI

Suatu hari ketika Syekh Abdul Qadir menginjak usia 17 tahun, ia ingin mencari ilmu di Baghdad. Pada malam harinya, ibundanya menasehati dirinya. “Wahai anakku, pesan ibu hanya satu sebelum besok kau melangkahkan kakimu mencari ilmu, jujurlah selama engkau mencari ilmu, tidak hanya waktu mencari ilmu, tetapi selamanya kau harus jujur. Ibu memberimu bekal 80 dirham emas yang kuletakkan di saku bajumu dan kujahit agar tidak jatuh.”

Keesokan harinya, Abdul Qadir berpamitan kepada ibundanya untuk menuntut ilmu di Baghdad. Di tengah perjalanan, ternyata beliau dicegat perampok. Perampok itu berkata, “Hai pemuda, berhenti! Kau mau pilih nyawa atau harta?”

Abdul Qadir menjawab, “Aku memilih harta dan nyawaku”.

Perampok itu bertanya kembali, Wahai pemuda apa kau membawa harta?”

Dengan tetang Abdul Qadir menjawab, “Ya aku membawa uang yang jumlahnya 80 dirham emas di sakuku”.

mendengar jawaban Abdul Qadir, perampok itu bergetar dan nyaris pingsan. Karena, sejak ia menjadi perampok baru sekali ada korban perampokan yang menjawab jujur apa adanya. Perampok itu kemudian membawa Abdul Qadir menemui pimpinannya.

Pimpinan perampk itu datang menemui Abdul Qadir dan berkata, “Wahai pemuda, benarkah kau membawa uang 80 dirham emas?”.

Dengan santai Abdul Qadir menjawab, “Ya, aku membawa 80 dirham emas dan berada disakuku yang dijahit ibuku semalam.

Mendengar uraian Abdul Qadir, pimpinanperampok itu juga kaget dan penuh tanya dalam batinya. Mengapa ada seorang yang mau dirampok malah menunjukkan harta miliknya? Biasanya, orang yang akan dirampok pura-pura (berbohong) tidak memiliki apa-apa dan baru menyerah ketika sudah dipukuli atau dianiaya. Keanehan ini oleh pimpinan perampok dijadikan materi untuk bertanya selanjutnya, “Wahai pemuda! Siapa namamu, dan mengapa engkau berkata jujur kepada kami? Bukankah kau tahu bahawa kami akan merampok harta milikmu?.

Namaku Abdul Qadir, aku mau pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu, dan semalam ibuku berpesan agar aku tidak boleh berbohong. Aku harus jujur dalam keadaan apapun agar ilmu yang ku peroleh nanati bermanfaat bagi kehidupanku. Aku takut hanya mempertahankan uang 80 dirham emas, nyawaku melayang atau kalau aku selamat ilmuku tidak bermanfaat (tidak berkah).” Demikian jawaban Abdul Qadir dengan tegas.

Mendengar uraian panjang Abdul Qadir pimpinan perampok itu langsung sujud dan memohon untuk dijadikan muridnya. Sungguh dahsyat kekuatan sifat jujur ini. Subhanallah………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s