KEUTAMAAN DZIKIR

Kata dzikir berasal dari bahasa Arab ذَكَرَ- يَذْكرُ- ذِكْرًا  yang berarti mengingat, menyebut, menutur atau merenungi. Sedangkan dzikir menurut pengertian syariat adalah mengingat Allah SWT dengan maksud untuk mendekatkan diri kepadaNya. Kita diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah untuk selalu mengingat akan kekuasaan dan kebesaranNya sehingga kita bisa terhindar dari penyakit sombong dan takabbur.

Alloh SWT berfirman:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#râè0øŒ$# ©!$# #[ø.ό #ZŽÏVx. ÇÍÊÈ

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41).

Menyebut-nyebut Asma Allah yakni berzikrullah merupakan salah satu perbuatan mengingat Allah dalam bentuk mengucapkan secara lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan doa kepada Allah SWT. Perbuatan tersebut sangat dianjurkan dalam agama Islam, sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Baqoroh ayat 152:

þ’ÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur ’Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ

Artinya:Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Firman Allah tersebut memuat syarat dan janji. Syarat hendaknya dipenuhi oleh manusia, sedangkan janji akan dipenuhi Allah SWT. Allah berjanji akan mengingat manusia dengan syarat manusia mengingat Allah swt.

Di samping memuat syarat dan janji, firman tersebut juga memerintahkan agar manusia bersyukur kepada-Nya juga berisi larangan agar manusia tidak kufur terhadap nikmat Allah swt.

Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan bagaimamanapun, kecuali ditempat yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Seperti bertasbih dan bertahmid di WC. Firman Alloh SWT:

tûïÏ%©!$# tbrãä.õ‹tƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbr㍤6xÿtGtƒur ’Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur $uZ­/u‘ $tB |Mø)n=yz #x‹»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ߙ $oYÉ)sù z>#x‹tã ͑$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 191).

Mengucapkan zikir pada dasarnya tidak dibatasi jumlah dan bilangannya. Demikian pula dengan lafal, waktu, cara dan tempat melaksanakannya. Akan tetapi zikir seyogyanya dilakukan di tempat-tempat yang suci dan dilandasi dengan niat tulus ikhlas, di samping sikap khusuk dan tawadhu’. Allah swt berfirman:

ä.øŒ$#ur š­/§‘ ’Îû šÅ¡øÿtR %Y敎|Øn@ Zpxÿ‹Åzur tbrߊur ̍ôgyfø9$# z`ÏB ÉAöqs)ø9$# Íir߉äóø9$$Î/ ÉA$|¹Fy$#ur Ÿwur `ä3s? z`ÏiB tû,Î#Ïÿ»tóø9$# ÇËÉÎÈ

Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.

Dzikir setelah sholat merupakan ibadah yang sangat disunnahkan dan salah satu kebiasaan Rasulullah s.a.w. Beliau juga melakukannya dengan suara keras. Dalam sahih Bukhari dan Muslim disebutkan pada Bab Dzikir setelah sholat dari Ibnu Abbas beliau berkata “sesungguhnya mengeraskan suara dengan dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan sholat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w.. Ibnu Abbas menambahkan, aku mengetahui bahwa mereka selesai sholat karena aku mendengarnya.

Riwayat lain dari Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas mengatakan:”Aku mengetahui selesainya sholat Rasulullah dengan takbir”.

Bagi imam ketika usai sholat disunnahkan membalikkan muka ke arah makmum. Demikian disebutkan riwayat sahih Bukhari dari Samurah bin Jundub:”Rasulullah s.aw. ketika selesai sholat beliau membalikkan mukanya ke arah kami”. Hadist serupa dari rawi-rawi lain juga diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab sahihnya, Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Abu dawud.

 

Bentuk dan Cara berdzikir :

  1. Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah SWT akan bertambah.
  2. Dzikir dengan lisan (ucapan), yaitu dengan cara mengucapkan lafazh-lafazh yang di dalammya mengandung asma Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada ummatnya. Contohnya adalah : mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
  3. Dzikir dengan perbuatan, yaitu dengan cara melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang harus diingat ialah bahwa semua amalan harus dilandasi dengan niat. Niat melaksanakan amalan-amalan tersebut adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan demikian menuntut ilmu, mencari nafkah, bersilaturahmi dan amalan-amalan lain yang diperintahkan agama termasuk dalam ruang lingkup dzikir dengan perbuatan.

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.(QS. Al-Baqarah : 152).

Tata cara atau adab berzikir, antara lain:

  1. Zikir hendaknya dilakukan dengan sikap tadaruk (merasa dirinya hina di hadapan Allah swt). Dengan demikian orang yang berzikir harus menampakkan sikap tawadhu’nya kepada-Nya.
  2. Zikir dilakukan dengan rasa takut kepada Allah. Takut keagungan dan kemulian-Nya sebagai Rabb manusia.
  3. Zikir dilakukan dengan berbisik-bisik saja, tidak mengeraskan suara, baik pada waktu malam ataupun siang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s