SAHABAT HIDUP ORANG BIJAK

Dua minggu yang lalu saya mengikuti sebuah workshop yang diadakan oleh kementerian agama RI bekerja sama dengan Unisma. Selama Workshop ada banyak ilmu yang saya dapatkan. Tapi dari sekian ilmu dan materi ada sebuah kata-kata bijak yang disampaikan oleh salah seorang pemateri yaitu Bapak Mas’ud staff khusus Kemensos RI. Diakhir pembicaraannya beliau memberikan motivasi kepada seluruh peserta. “Jika kita bersahabat dengan kesusahan bertemu dengan sedikit kenikmatan akan menjadi kebahagiaan. Jika kita bersahabat dengan kemewahan bertemu dengan sedikit kesusahan akan berubah menjadi bencana“.

Sebuah kalimat yang begitu dalam bagi saya. kalimat itu saya resapi betul-betul mengingat kehidupan pada zaman ini. Banyak orang yang sebenarnya tidak berasal dari golongan orang kaya tapi kehidupan mereka meniru orang kaya, sehingga mereka melakukan berbagai usaha untuk menunjukkan identitas mereka. Akhirnya banyak diantara mereka yang melakukan perbuatan menyimpang agar orang mengakui bahwa dia orang kaya.

Padahal jika kita mau menengok orang-orang yang sukses di sekitar kita. Ternyata mereka berangkat dari nol, melalui berbagai kesulitan dan kesusahan. semua kesulitan itu mereka hadapi dengan penuh perjuangan, ketabahan serta kesabaran. hingga akhirnya mereka menemukan secercah harapan pada kesengsaraan yang dihadapi itu. kemudian mereka bangkit, semangat menata hidup yang penuh liku-liku.

Allohpun tak akan membiarkan hambaNya dalam kesulitan selamanya. Dia turunkan sebuah anugrah kepada hambaNya yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan doa yang penuh harap dengan kenikmatan yang sebelumnya ia rasakan. Sedikit kenikmatan itu menjadi sebuah kebahagiaan yang ternilai harganya bagi seorang hamba yang benar-benar dekat dengan Tuhannya.

Karena sebagai seorang manusia makhluk Tuhan, ia sadar bahwa di dunia ini untuk mengabdi kepadaNya dengan sepenuh jiwa dan raga. Ia yakini bahwa hidup adalah ujian bagi manusia, hanya manusia yang ikhlas sajalah yang bisa menjalani hidup dengan penuh senyuman disaat ia dalam kesulitan.

Sebaliknya orang yang selalu hidup bergelimang harta tanpa adanya rasa syukur. Akan lupa dengan Zat yang telah menciptakannya dan memberikannya rizki. Ia lupa bahwa di dunia ini hanya sementara, ia mengira akan hidup selamanya. Berfoya-foya dengan harta warsan orang tua, ataupun harta yang diperolehnya sendiri. Selama ini ia tak mau menyadari bahwa harta hanyalah titipan sang Pencipta.

Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lupa dengan Tuhannya. Ia sombong dengan kekayaannya atau bahkan sombong dengan keterpura-puraanya sebagai orang kaya. padahal tidak punya apa-apa. golongan orang ini akan merasakan sebuah keadaan yang bingung, sedih mendalam, bahkan bisa bunuh diri disaat Alloh mengganti kemewahan yang ia miliki menjadi sebuah keadaan yang tidak punya apa-apa.

Ia akan begitu malu ketika bertemu dengan teman-temannya yang dulunya selalu menyombongkan diri. kini hanya tubuh yang dibalut sehelai kain kusut. ia akan merasakan sebuah bencana besar atas apa yang selama ini diperbuat.

dalam tulisan ini saya mengajak pada para pembaca bahwa hidup ini hanya sementara. Hanya pengabdian kepada sang Pencipta. Marilah tetap sederhana meskipun bergelimang harta, tetap tawadhu meskipun berilmu, tetap rendah hati meskipun punya jabatan. tidak sumugih, kemayu, atau merasa paling tampan di dunia. karena sesungguhnya apa-apa yang menempel dalam raga kita hanya titipan yang maha Kuasa yang sewaktu-waktu bisa diminta begitu saja tanpa ada kompromi dengan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s