SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW

 

  1. A.    Keadaan Masyarakat Arab Sebelum Islam

Ketikra Nabi Muhammad SAW lahir, Mekkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab. Baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai yaitu Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Mekkah menjadi pusat keagamaan di daerah Arab. Banyak orang berziarah kesana. Di dalamnya terdapat 360 berhala mengelilingi berhala utama, Hubal. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.

Secara geografis jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu bagian tengah dan bagian pesisir. Disana tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah yang berair di waktu musim hujan.sebagian besar jazirah Arab adalah padang pasir sahara yang terletak di tengahyang mempunyai keadaan dan sifat yang berbeda-beda, karena itu ia bisa dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Sahara langit memnjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke barat, disebut jugfa sahara nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiuan air sering kali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sukar ditempuh.
  2. Sahara selatan yang membentang menyambung sahara langit kearah timur sampai salatan persia. Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus, dan pasir bergelombang. Bagian ini juga disebut al-Rub’al al-Khali (bagian yang sepi).
  3. Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah liat yang berbatu hitam bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di keluasan sahara ini, seluruhnya mencapai 29 buah.

Penduduk Arab sangat sedikit yang terdiri dari suku-suku badui yang mempunyai gaya hidup pedesaan dan nomadik, sering berpindah ke daerah lain untuk mencari air dan padang rumput untuk binatang gembalaan mereka, kambing dan unta.

Adapun daerah pesisir bila dibandingkan dengan daerah sahara sangat sempit, bagaikan selembar pita yang mengelilingi jazirah. Penduduk sudah hidup menetap dengan mata pencaharian bertani dan bernniaga. Karena itu mereka sempat membina berbagai budaya bahkan kerajaan.

Jika dilihat dari asal-usul keturunan, penduduk jazirahArab dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu keturunan Qathan (Qathaniyun) dan keturunan Ismail ibn Ibrahim (‘Adnaniyun). Pada mulanya  daerahutara diduduki golongan Adnan dan selatan diduduki golongan Qathan. Tapi lama kelamaan dua golongan ini membaur karena arus perpindahan dari utara ke selatan dan sebaliknya.

Masyarakat yang nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan badui. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk kabilah. Beberapa kabilah membentuk suku dan dipimpin oleh seorang Syekh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan sehingga kesetiaan dan solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang, karena itu peperangan antar suku serign terjadi. Dalam kondisi sering perang tersebut menyebabkan wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini berlanjut sampai Islam lahir. Dunia Arab ketika itu merupakan kancah peperangan terus menerus. Di sisi lain walaupun masyarakat Arab memiliki pemimpin, namun mereka hanya tunduk dan patuh pada syekh atau amir dalam hal kaitan perang, pembagian harta rampasan dan wanita tertentu. Di luar itu syekh atau amir tidak kuasa mengaur anggotanya.

Akibat sering berperang kebudayaan mereka tidak berkembang. Sejarah masyarakat Arab badui hanya dapat diketahui melalui syair-syair yang diriwayatkan perawi, antara lain bersemangat tinggi dalam mencari nafkah, sabar menghadapi kekerasan alam dan juga dikenal sebagai masyarakat yang cinta kebebasan.

Dalam keadaan itu, kemurnian masyarakat badui tetap terjaga. Mereka dapat disejajarkan dengan bangsa-bangsa lain yang masih dalam permulaan perkembangan budaya. Dan bedanya dengan bangsa lain, sebagian besar dari mereka adalah penyair.

 

MAKKAH, KOTA SUCI

Pemerintah di Makkah

Kota makkah adalah satu tempatyang dipandang suci oleh seluruh bangsa Arab. Bangsa Arab dari seluruh penjuru Jazirah Arab berdatangan ke kota Makkah untuk mengerjakan Haji atau umrah. Oleh karena itu bangsa Arab seluruhnya sela sekata melarang berperang dalam bulan-bulan haji, yaitu Zulkaidah, Zulijjah, dan Muharram. Begitu juga di bulan Rajab, karena di bulan Rajab itu banyak dikerjakan umrah. Bulan-bulan yang disebutkan itu mereka namai “Asyhru’l Hurum” (Bulan-bulan yang terlarang).

Demikian pula mereka telah sepakat untuk melarang berperang di Haram Makkah itu. Sikap ini adalah semacam persetujuan yang dibuat oleh badan-badan yang memegang pemerintah di Tanah Arab berkenaan dengan kota Makkah. Kota Makkah itu sendiri pun semenjak masa paginya betul telah mengenal pemerintahan. Diantara suku-suku yang telah memegang kekuasaan di Makkah yang terkenal ialah suku-suku Amaliqah, yaitu sebelum Nabi Ismail dilahirkan.

Kemudian datang pula ke Makkah suku-suku Jurhum dan mereka menetap di Makkah, bersama-sama dengan suku-suku Amaliqah. Akan tetapi suku-suku Jurhum kemusian dapat mengalahkan dan mengusir suku-suku Amaliqah dan Makkah. Dimasa Jurhum berkuasa itulah Ismail datang ke Makkah. Ismail terdiri dalam terdidik dalam lingkungan Jurhum, dan kemudian kawin dengan salah seorang putri dari Jurhum.

Karena kota Makkah telah menjadi tempat yang dipandang suci oleh segenap bangsa Arab, maka berdirilah di sana pemerintahan untuk melindungi jemaah-jemaah haji dan menjamin keamanan, keselamatan dan ketentraman mereka. Rupanya telah terjadi pembagian kerja antara orang-orang Jurhum dan Ismail, yaitu : urusan-urusan politik dan peperangan dipegang oleh orang-orang Jurhum, sedang Ismail mencurahkan tenaganya untuk berkhimat kepada Baitullah dan urusan-urusan keagamaan.

Orang-orang Jurhum kemudian telah menjadi kaya, karena itu mereka telah tenggelam dalam kenikmatan hidup, dan lupalah mereka kepada kewajibannya. Oleh karena itu berpikirlah oleh suku Khuza’ah yang juga telah menetap di Makkah hendak merebut kekuasaan dari Jurhum. Mudhadhim ibnu ‘Amr al Jurhumi salah seorang pemimpin Jurhum tiadalah mampu untuk menginsafkan orang-orangJurhum itu, dan dirasanya bahwa mereka lemah. Oleh karena itu berangkatlah dia meninggalkan Makkah bersama-sama kaumnya. Ikut pula bersama-sama mereka putra-putra Ismail.

Oleh Mudhadhim ibnu ‘Amr sebelum meninggalakn Makkahtelaga Zam-zam ditimbuninya dengan tanah. Setelah Jurhum meninggalkan Makkah berpindahlah kekuasaan ke tangan Khuza’ah, yaitu pada tahun 440 M. Qushai inilah yang mendirikan Darun Nadwah, untuk tempat bermusyawarah bagi penduduk Makkah di bawah pengawasan Qushai. Dia pulalah yang mengatur urusan-urusan yang berhubungan dengan Ka’bah, yaitu:

  1. As Siqayah (Menyediakan air minum).

Karena telaga Zam-zam telah ditimbun dengan tanah, maka amat sulitlah memperoleh Makkah (telaga Zam-zam itu kemudian digali kembali oleh Abdul Mutthalib) Sebab itu air untuk diminum oleh jemaah-jemaah haji haruslah didatangkan oleh orang yang memegang urusan siqayah dari perigi-perigi yang berada di tempat-tempat yang jauh. Air ini diletakkan di dalam bak-bak dan dicampuri sedikit dengan buah kurma dan anggur kering agar berasa manis.

  1. Ar Rifadah (Menyediakanmakanan)

Untuk jemaah haji yang tidak mampu haruslah disediakan makanan. Biasanya Quraisy memberikan sebagian dari harta mereka kepada Qushai, agar dipergunakannya untuk menyediakan makananbagi jemaah haji yang kurang mampu.

  1. Al Liwa’ (Bendera)

Yaitu menjaga Ka’bah, dan memegang anak kuncinya. Quraisy berkuasa di Makkah sampai datang agama Islam. Selama itu urusan yang empat macam itu dipegang oleh putera-putera Qushai berganti-ganti, sampai akhirnya dipegang oleh Abdul Mutthalib nenek Raullah SAW.

 

PERNIAGAAN QURAISY

Ada faktor-faktor yang menolong Makkah dapat memegang peranan dalam perniagaan. Terutama ialah orang-orang Yaman yang telah berpindah ke Makkah, sedang mereka mempunyai pengalaman yang luas dalam bidang perniagaan. Dalam pada itu kota Makkah, dari sehari ke hari bertambah masyhur sesudah Ka’bah didirikan, dan jemaah-jemaah haji pun berdatanganlah dari segenap penjuru Jazirah Arab tiap tahun. Keadaan itu menyebabkan Quraisy amat dihormati oleh oleh bangsa Arab, apalagi penghargaan dan pelayanan Quraisy terhadap jemaah Tanah Arab, antara Utara dan Selatan itu pun telah menguatkan faktor-faktor yang disebutkan itu. Apalagi keadaan buminya yang kering dan tandus menyebabkan penduduknya suka merantau untuk berniaga, sebagai suatu usaha yang utama, dan sumber yang terpenting bagi penghidupan mereka.

Dengan demikian perniagaan suku Quraisy menjadi giat serta mendapat kemasyhuran dan kemajuan yang besar di dalam dan diluar Jazirah Arab. Dari San’a, dan kota-kota pelabuhan di Oman dan Yaman, kafilah-kafilah bangsa Arab membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutera, barang logam, kulit, senjata, dan rempah-rempah. Barang-barang perniagaan yang disebutkan ini ada yang dihasilkan di Yaman, dan ada pula yang didatangkan ke kota-kota pelabuhan itu dari Indonesia, India, dan Tiongkok. Oleh Kafilah-kafilah itu barang-barang ini di bawa ke pasar-pasar Syam. Minyakk wangi dan kemenyan itu amat laris lakunya di negeri-negeri tersebut. Di waktu kembali, kafilah-kafilah itu membawa gandum, minyak zaitun, beras,jagung dan tekstil dari Mesir dan Syam.

Sebagaimana kaum Quraisy mengadakan perjalanan perniagaan itu dari timur ke barat, untuk menghubungkan antara Bahrain dan selat Persia (Teluk Arab) di satu pihak dengan Sudan dan Habsyl mnelalui Laut Merah dipihak lain. Adapun barang-barang perniagaan yang terpenting dalam Lin ini ialah mutiara yang dikeluarkan dari selat Persia dan rempah-rempah yang dibawa dari Habsyl. Ada empat orang putera Abdul Manaf yang selalu mengadakan perjalanan perniagaan keempat tempat terpenting yang senantiasa didatangi oleh kafilah-kafilah Quraisy seperti disebutkan di atas.

Mereka itu ialah : hasyim perjalanannya ke negeri Syam Abdu Syam ke Habsyl, Abdul Mutthalib ke Yaman dan Naufal ke Persia. Pedagang-pedagang Quraisy yang berniaga ke negeri-negeri tersebut adalah di bawah lindungan putera-putera Abdul Manaf yang berempat itu, karena itu tidak ada seorangpun yang berani mengganggu mereka.(At Thabari II : 12-13, SNabikudz Dzahab fi ma’rifati qabailil Arab II : 215)

Akan tetapi perjalanan yang lebih teratur dan yang lebih giat ialah perjalanan ke utara dimusim panas, dan ke selatan dimusim dingin. Karena itu, maka perjalanan ini menuturkan di dalam AlQuran sebagai berikut :

“Karena Tuhan telah membiasakan kaum Quraisy, yakni membiasakan mereka mengadakan perjalanan di musim dingin dan di musim panas, karena itu hendaklah mereka menyembah Tuhan Ka’bah ini, yang telah memberi mereka makan di waktu kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Surat Quraisy)

Menurut riwayat At Thabari bahwa Hasyim ibnu Abdul Manaf-lah yang mula-mula mengatur bagi Quraisy perjalanan di musim dingin dan di musim panas. Kendati pun menurut yang diyakini oleh ahli-ahli sejarah bahwa sebelum Hasyim itu telah ada juga perjalanan untuk berniaga ke utara dan ke selatan, akan tetapi teraturnya adalah semenjak diatur oleh Hasyim.

 

KEHIDUPAN SOSIAL DI JAZIRAH ARAB

Pembahasan di atas disengaja untuk menjelaskan kehidupan politik dari bangsa Arab. Tetapi di dalamnya pun telah terselip tinjauan-tinjauan penting berkenaan dengan kehidupan sosial, yang perlu diterangkan waktu menjelaskan kehidupan politik itu. Dalam pembahasan di bawah ini kita hendak mengkhususkan pembicaraan mengenai segi-segi terpenting dalam kehidupan sosial bangsa Arab sebelumIslam, karena pembahasan semacam ini amat penting untuk memahami pendirian bangsa Arab terhadap agama Islam, dikala mereka diseru kepada agama baru ini.

 

SYAIR ARAB

Ada dua cara, dalam mempelajari syair Arab di masa Jahilia, kedua-duanya itu amat besar faedahnya. Mempelajari syair itu sebagai suatu kesenian, yang oleh bangsa Arab amat dihargai. Mempelajari syair itu dengan maksud, supaya kita dapat mengetahui adat istiadat dan budi pekerti bangsa Arab. Dibawah ini akan kita adakan tinjauan ringkas mengenai syair Arab di masa Jahiliah, menurut keduanya segi yang disebutkan itu.

Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Mereka amat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair, untuk mendengarkan syair-syair mereka, sebagai orang zaman sekarang beramai-ramai mengelilingi penyair atau pemain musik yang mahir, untuk mendengarkan permainannya.

Ada beberapa pasar tempat penyair berkumpul, yaitu:pasar ‘Ukas, Majinnah, Zul Majaz. Dipasar-pasar itu para penyair memperdengarkan syairnya yang sudah dipersiapkannya untuk maksud itu, dengan dikelilingi oleh warga sukunya; yang memuji dan merasa bangga dengan penyair-penyair mereka. Dipilihlah di antara syair-syair itu yang terbagus, lalu digantungkan di Ka’bah tidak jauh dari patung dewa-dewa pujaan mereka. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Bila pada suatu kabilah muncul seorang penyair maka berdatanganlah utusan dari kabilah-kabilah lain, untuk mengucapkan selamat kepada kabilah itu. Untuk ini kabilah itu mengadakan perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran, dengan menyembelih binatang-binatang ternak. Wanita-wanita kabilah ke luar untuk menari, menyanyi dan bermain musik.

Semua ini diadakan untuk menghormati penyair. Karena penyair membela dan mempertahankan kabilah dengan syair-syairnya, ia melebihi seorang pahlawan yang membela kabilahnya dengan ujung tombaknya. Disamping itu penyair dapat juga mengabadikan peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian dengan syairnya. Dan bilamana ada penyair-penyair kabilah lain mencela kabilahnya, maka dialah yang akan membalas dan menolak celaan-celaan itu dengan syair-syairnya pula.

Salah satu dari pengaruh syair pada bangsa Arab ialah : Bahwa syair itu dapat meninggikan derajat yang tadinya hina,atau sebaliknya, dapat menghina-hinakan seseorang yang tadinya mulia. Bilamana seorang penyair memuji seorang yang tadinya dipandang hina, maka dengan mendadak sontak orang itu menjadi mulia; dan bilamana seorang penyair mencela atau memaki seorang yang tadinya dimuliakan, maka dengan serta merta orang itu menjadi hina.

 

 

 

AGAMA

 

Naluri beragama manusia muncul sejak pertama kali manusia diciptakan. Kekeringan Jazirah Arab sebenarnya adalah baru, kalau dibandingkan dengan berapa lamanya manusia telah ada di muka bumi ini. Penyelidikan-penyelidikan ilmiah telah menunjukan bahwa Jazirah Arab – yang sekarang merupakan padang pasir yang tandus – dahulunya adalah bumi yang subur dan menghijau, yang telah menganugrahkan kepada penduduknya pelbagai macam kemakmuran. Oleh karena itu amat boleh jadi perasaan keagamaan telah timbul pada bangsa Arab semenjak zaman yang disebutkan.

demikian, oleh karena semangat beragama amat kuat pada bangsa Arab, hal ini adalah nyata dan tidak diragukan lagi, serta dapat disaksikan setiap hari.

Semangat beragama ini menjadi salah satu sebab yang mendorong mereka melawan dan memerangi agama Islam dikala Islam datang. Mereka memerangi agama Islam, karena mereka amat kuat berperang dengan agama lama, yaitu kepercayaan yang telah mendarah daging pada diri mereka. Andaikata mereka acuh tak acuh dengan agama tertentu dibiarkannya saja agama Islam, siapa yang hendak memluknya dipeluknyalah, dan siapa yang tidak, terserah. Akan tetapi yang kejadian bukanlah demikian.Agama Islam mereka perangi dengan mati-matian, sampai mereka kalah. Sampai saat ini pun orang Arab, baik pun dia seorang ulama atau seorang jahil, amat bersemangat terhadap agamanya, disiarkannya agama itu dan dibelanya sekuat tenaganya.

Bangsa Arab adalah salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk. Mereka mengikuti agama Nabi Ibrahim, setelah Nabi Ibrahim melarikan diri dari kaumnya yang hendak membakarnya dengan api, karena beliau mengingkari dan melawan dewa-dewa mereka.

Tetapi bangsa Arab setelah mengikuti iagama Nabi Ibrahim lantas kembali lagi menyembah berhala. Berhala itu mereka buat dari batu dan ditegakkan di Ka’bah. Dengan demikian agama Ibrahim bercampur aduklah dengan kepercayaan watsani, dan hampir-hampir kepercayaan watsani itu dapat mengalahkan agama Nabi Ibrahim, atau benar-benar agama Nabi Ibrahim telah kalah oleh kepercayaan watsani.

 

KELUARGA

Setiap kabilah mempunyai adat tersendiri dalam hal keluarga. Akan tetapi ada suatu gejala yang boleh dikatakan kelihatan dengan jelas pada tiap-tiap kabilah. Yaitu : adat menjaga dan membela wanita, dan memandang kehormatan perempuan itu lebih tinggi harganya daripada jiwa, harta dan anak pinak. Perempuan-perempuan itu sendiri pun, kerapkali pula dapat mempergunakan kesempatan mereka di medan perang untuk memompakan semangat yang berapi-api kepada kaum laki-laki yang sedang bertempur.

Pada pertempuran Dzi Qar yang terjadi antara bansa Persia dengan Kabilah Bakr tampilah seorang perempuan dari Bani Ajal menyanyikan sebuah lagu untuk menghasung kaum laki-laki yang sedang bertempur, agar mereka bertempur dengan mati-matian. Dalam nyanyian itu ia atas nama teman-temanya kaum wanita mengucapkan janji yang muluk-muluk kepada kaumlaki-laki yang sedang bertempur itu. Janji itu akan dipenuhi kalau mereka menang, dan diancam kalau mereka kalah. Nyanyian ini diubah dalam sebuah sajak yang berbunyi:

“Kalau kamu dapat mengalahkan musuh, kita berpeluk-pelukan.

Kita hamparkan permadani

Tetapi kalau kamu yang kalah, kita bercerai.

Cerai sebagai orang yang tak pernah mencintai”

Wanita bagi bangsa Arab sangatlah dihargai hingga berlebih-lebihan. Akibatnya jika ada wanita yang tersinggung bisa membawa kepada pertumpahan darah. Salah satu gejala dari adanya keinginan yang berlebih-lebihan untuk menjaga agar perempuan itu selalu terhormat ialah : kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup, karena dikhawatirkan nanti akan bernoda atau di tawan musuh. Akan tetapi kebiasaan membunuh anak perempuan ini tentu saja tiadalah menjadi adat bagi seluruh kabilah Arab, hanya terdapat pada sementara Bani Asad dan Tamim.

Tentang pembinaan keluarga, maka umumnya adalah menurut yang biasa saja. Yaitu laki-laki meminang wanita yang hendak dikawinnya kepada keluarganya. Bial pinangan itu dikabulkan, maka dibawanyalah wanita itu ke rumahnya dan dilangsungkan pernikahan. Telah menjadi kebiasaan pula meminta pikiran perempuan lebih dahulu, sebelum dia dikawinkan. Telah jadi kebiasaan bagimereka bahwa thalaq itu di tangan laki-laki. Seorang laki-laki berhak memegang terus istrinya atau menceraikannya. Akan tetapi ada sementara wanita yang tiada mau diperistri, kalau tidak hak mencerai itu dipegang oleh mereka.

Ada lagi suatu kebiasaan bangsa Arab, yaitu tidak mau mengawinkan putri-putri mereka kepada bangsa asing (yang bukan bangsa Arab). Dimasa Jahiliah jumlah istri pada bangsa Arab tiada terbatas. Dalam buku fiqh banyak disebutkan contoh tentang orang sebelum Islam yang beristri lebih dari empat orang. Ada diantaranya yang mempunyai istri sampai sepuluh orang. Orang ini disuruh memilih empat orang di antara istri itu dan menceraikan yang selebihnya.

Orang Arab Amat suka mempunyai anak laki-laki. Doa mereka diwaktu kawin ialah : “Bir rifai wal banin”.(moga-moga sesuai, dan banyak anak laki-laki) Dan adalah suatu hal yang jelas bahwa putra yang laki-laki itulah yang menjadi saka guru dan tiang keluarga. Wanita Arab menjadi teman dan penolong yang baik bagi suaminya, karena dia mempunyai bermacam kepandaian yang menyebabkan kecerdasannya setarf dengan kecerdasan suaminya. Dia pandai menggembala, bernyanyi, bersyair, menari, memintal benang, bertenun kain dan membuat kemah. Kesemuanya itu dapat dikerjakan oleh seorang wanita Arab, disamping kewajibannya sebagai ibi rumah tangga dan nyonya rumah.

Ada suatu kebiasaan yang tidak baik, yang terkadangdiderita oleh wanita Arab, yaitu istri dari ayah biasanya diwarisi (dikawini oleh anaknya) seperti mewarisi harta benda. Perkawinan semacam ini mereka namai “Zawaju’l maqt” (kawin marah). Akan tetapi kebiasaan ini tidak begitu tersiar. Biasanya dilakukan terhadap wanita yang tiada beranak

Sementara itu ahli-ahli sejarah mamandang perlakuan ini sebagai akibat sistem perkawinan bangsa Arab, yaitu sistem yang menganggap bahwa perkawinan itu berarti memutuskan hubungan antara seorang wanita dengan ayah dan saudara-saudara laki-laki. Keluarga pada bangsa Arab adalah suatu kesatuan yang anggotanya dukung mendukung, biarpun keadilan atau dalam perbuatan aniaya. Dalam hal ini semboyan mereka ialah :”Tolong saudaramu, biarpun menganiaya atau teraniaya!”

Walupun demikian pendirian dua orang yang bersaudara, kemudian antara anak-anak atau keturunan dari dua orang bersaudara itu, lekas pula terjadi permusuhan, yang menyebabkan mencetus api peperangan antara mereka. Seperti permusuhan yang terjadi antara keturunan ‘Abdud Dar dan keturunan ‘Abdu Manaf, sedangkan ‘Abdud Dar dan ‘Abdu Manaf, itu adalah bersaudara. Keduanya putera dari Qushai. Begitu juga permusuhan yang terjadi antara keturunan ‘Abdu Manaf dengan Umaiyah Ibnu’Abdu Syam. Demikian pula permusuhan yang timbul antara keluarga Abbasiah dan keluarga Alawiah padahal kedua golongan ini adalah keturunan ‘Abdull Mutthalib ibnu Hasyim.

 

  1. B.     Kehidupan Nabi Muhammad SAW

Nabi muhammad adalah putra dari Abdullah bin Abdul Muthalib melalui pernikahannya dengan Aminah binti Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra. Nabi Muhammad lahir pada hari senin tanggal 12 robiul awal tahun gajah (570 M). Dinamakan tahun gajah karena pada tahun itu pasukan Abrahah gubernur kerajaan Habsyi (Ethiopia) dengan menunggang Gajah menyerbu Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah.

Ketika Nabi Muhammad lahir, semua keluarga merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Bayi kecil Nabi dibawa kakeknya ke Ka’bah untuk diberi nama “Muhammad”. Nama ini cukup langka bagi bangsa Arab. Allah sudah menunjukkan kekuasaannya sejak kelahiran Nabi, ketika beliau lahir langsung dalam keadaan sujud dan tubuhnya bersih. Ketika itu juga api yang menyala di menara Syiria yang menjadi pemujaan seketika itu juga padam.

Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ketika masih dalam kandungan ayahnya meninggal dalam perjalanannya dalam berdagang, ketika itu umur kandungan ibunya baru berusia tiga bulan. Setelah lahir Nabi Muhammad diserahkan kepada Halimah Sa’diyah wanita suku badui untuk diasuh dan disusui. Hal ini sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab untuk menyusukan anaknya kepada suku Badui karena suku Badui memiliki kefasihah dalam berbahasa Arab karena belum tercampur dengan bahasa asing.

Nabi Muhammad berada dalam asuhan Halimah Sa’diyah hingga berumur empat tahun. Sebagaimana anak-anak lain yang diasuh Halimah, Nabi Muhammad sudah ikut menggembalakan kambing. Dan ketika Nabi Muhammad sedang menggembala kambing ada dua malaikat mendatanginya dan membedah dada Nabi untuk membersihkan hatinya dari sifat-sifat tercela.

Setelah diasuh Halimah, Nabi Muhammad diasuh oleh ibunya, Siti Aminah selama dua tahun. Ketika berumur enam tahun ibunya meninggal dan Nabi menjadi anak yatim piatu. Seakan-akan Allah ingin melaksanakan sendiri pendidikan Nabi Muhammad, sebagai penyampai risalah-Nya yang terakhir. Kemudian Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, namun dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal karena sudah tua. Kemudian hak asuh dilanjutkan pamannya, Abu Thalib.

Selama dalam pemeliharaan pamannya, Nabi Muhammad ikut menggembalakan kambing keluarganya dan milik penduduk Mekkah. Nabi muhammad lebih suka merenung tentang hikmah, sehingga ia jauh dari sifat-sifat nafsu duniawi. Pada usia 12 tahun ia ikut pamannya berniaga ke Syiria. Ketika berdagang mereka bertemu dengan pendeta Kristen yang bernama Buhairah. Ia melihat tanda keNabian pada diri Nabi dan menasehatkan kepada Abu Thalib untuk tidak terlalu jauh membawa keponakannya ke Syiria, dikhawatirkan kaum Yahudi mengetahuinya dan berbuat jahat kepadanya. Sejak saat itu Nabi Muhammad tidak diajak kembali berdagng oleh pamannya.

Pada usia 25, Nabi Muhammad berdagang ke Syiria menjualkan dagangan Siti Khadijah, saudagar kaya yang sudah janda dan berumur 40 tahun. Karena memperoleh laba yang besar sepulangnya berdagang ia melamar Nabi Muhammad. Lamaran diterima dan pernikahan segera dilaksanakan. Selanjutnya Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam. Pernikahan itu dikaruniai 2 putra dan 4 putir yaitu: Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Namun kedua putra Nabi meninggal sejak kecil.

Peristiwa penting adalah ketika perbaikan Ka’bah dilakukan karena rusat berat. Ketika akan meletakkan Hajar Aswad terjadi perselisihan karena setiap kepala suku saling berebut hak. Akhirnya para pemimpin Qurays sepakat bahwa siapa yang pertama kali masuk Ka’bah melalui pintu Shafa akan dijadikan hakim. Ternyata orang tersebut adalah Nabi Muhammad, ia kemudian menghamparkan selembar kain dan melatakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut. Beliau meminta setiap kepala suku memegang tepi kain tersebut dan mengagkatnya bersama-sama. Kemudian Nabilah yang meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya semula, semua kepala suku merasa puas dengan penyelesaian tersebut. Sejak itulah Nabi Muhammad mendapat gelar al-Amin.

 

  1. C.    Penyebaran Islam Sebelum Hijrah

Menjelang usia 40 tahun Nabi Muhammad sudah mulai sering memisahkan diri dari masyarakat untuk berkontemplasi ke gua Hira. Hal itu dilakukannya setiap hari untuk bertafakkur. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, malaikat Jibril muncul dihadapannya, menyampaikan wahyu yang pertama yaitu Q.S al-Alaq ayat 1-5. Dengan turunnya wahyu pertama ini menunjukkan bahwa Nabi telah dipilih Tuhan sebagai Nabi, namun belum diperintahkan untuk menyeru kepada manusia.

Sejak turunnya wahyu pertama itu, Jibril tidak kunjung muncul lagi, Nabi selalu menantikannya di Gua Hira. Dalam penantiannya itu turunlah wahyu yang kedua yaitu surat Al-Muddatstir ayat 1-7. Setelah turun wahyu yang kedua ini, Nabi mulai berdakwah secara diam-diam kepada kerabat dan temannya. Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid, Ummu Aiman, Usman Bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Setelah dakwah secara diam-diam turunlah perintah untuk berdakwah secara terbuka. Maka Nabi mengundang dan menyeru kerabatnya dari bani Abdul Muthalib, namun semuanya menolak kecuali Ali. Kemudian Nabi menyeru kepada masyarakat umum, baik kepada penduduk Mekkah maupun kepada negeri lain, termasuk orang-orang yang mengerjakan haji. Nabi berdakwah tanpa mengenal lelah, dan kebanyakan pengikutnya adalah kaum wanita, budak, pekerja dan orang-orang miskin. Mereka adalah orang-orang lemah tapi mempunyai semangatnya membaja.

Namun dakwah Nabi mulai mendapat hambatan dari para pemimpin Qurays. Semakin banyak pengikut semakin keras tantangannya. Ada lima faktor yang mendorong orang-orang Qurays menentang seruan Islam, yaitu: 1) Mereka tidak dapat membedakan antara keNabian dan kekuasaan, 2) Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsaawan dengan hamba sahaya, 3) Para pemimpin Qurays tidak dapat menerima ajaran tentang kebankitan kembali dan pembalasan di akhirat, 4) Bangsa Arab sangat taqlid kepada nenek moyang, 5) Pembuat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.

Banyak cara yang digunakan pemimpin Qurays untuk menggagalkan dakwah Nabi. Pertama mereka membujuk Abu Thalib untuk membujuk keponakannya tidak berdakwah lagi, karena Abu Thalib merupakan pelindung Nabi dalam berdakwah, meskipun belum masuk Islam, karena dia adalah Muhammad orang yang disegani di Mekkah. Namun usaha ini gagal dilakukan. Kemudian mereka membawa seorang pemuda yang tampan dan gagah kepada Abu Thalib untuk ditukar dengan Nabi Muhammad namun dia menolak dengan keras.

Karena gagal lagi, mereka mengutus Utbah ibn Rabiah seorang ahli retorika untuk membujuk Nabi. Mereka menawarkan tahta, harta dan wanita asal Nabi mau berhenti berdakwah. Nabi menolaknya dengan mengatakan “Demi Allah biarpun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini, hingga agama ini manang atau aku binasa karnyenanya”.

Setelah cara diplomatik gagal, kaum Qurays akhirnya menggunakan cara kekerasan untuk menghentikan dakwah Nabi. Mereka menyiksa budaknya yang masuk Islam, menyuruh orang-orang untuk menyiksa keluarganya masuk masuk Islam sampai murtad kembali. Kekejaman itu mendorong Nabi Muhammad untuk mengungsikan para sahabat dan pengikutnya. Kemudian Nabi mengungsikan para pengikutnya ke Habsyah, raja negeri itu beragama Kristen dan adil. Semakin meningkat kekejaman Qurays semakin banyak yang mengikutinya, bahkan tokoh penting mereka, Hamzah dan Umar ibn Khatab memperkuat kekuatan Islam setelah mereka berIslam.

Kaum musyrikin Qurays pun semakin memperkeras kekejaman mereka. Pada tahun ke-7 keNabian mereka memboikot Bani Hasyim (keluarga Nabi) selama tiga tahun. Masyarakat dilarang berhubungan dengan mereka, termasuk jual beli. Akibatnya mereka kelaparan, kemiskinan dan menderita kesengsaraan. Akhirnya mereka mengungsi ke suatu lembah diluar kota Mekkah. Setalah masa boikot habis mereka bisa merasa lega dan kembali ke Mekkah. Namun tidak berselang lama, Abu Thalib sebagai pelindung Nabi meninggal. Tiga hari kemudian istri Nabi, khadijah juga meninggal hal ini membuat hati Nabi sedih. Hal itu terjadi pada tahun ke-10 kenabian dan disebut sebagai tahun kesedihan.

Kekejaman kaum Qurays semakin menjadi, Nabi berusaha menyebarkan Islam ke luar Mekkah. Ketika dakwah ke Thaif justru mendaat ejekan bahkan dilempari batu. Untuk menghibur hati Nabi Allah mengisra’-mi’rajkan Nabi pada tahun 10 kenabian. Berita ini menggemparkan masyarakat Mekkah. Bagi orang kafir dijadikan propaganda untuk mendustakan Nabi, bagi orang beriman sebagai ujian keimanan.

Setelah peristiwa itu, penyebaran Islam semakin berkembang. Orang-orang Yastrib yang berhaji menemui Nabi di rumah Aqabah dan menyatakan kesetiaan. Perjanjian ini disebut sebagai perjanjian “Aqabah Pertama”. Kemudian mereka pulang untuk menyebarkan Islam di daerahnya dengan ditemani Mus’ab bin Umair. Musim haji berikutnya mereka datang kembali berjumlah 73 orang. Mereka meminta Nabi untuk pindah ke Yastrib. Mereka berjanji akan melindungi dan membela Nabi. Nabi menyetujuinya dan perjanjian ini disebut sebagai perjanjian “Aqabah Kedua”.

Tapi perjanjian ini telah diketahui oleh kaum musyrikin Mekkah. Akhirnya dalam waktu dua bulan Nabi menghijrahkan kaum muslimin ke Yastrib. Sekitar 150 orang diungsikan dan di Mekkah tinggal Ali dan Abu Bakar saja yang menemani Nabi. Mereka menemani Nabi sampai berhijrah karena kafir Qurays akan membunuhnya.

Nabi hijrah ke Yastrib ditemani oleh Abu Bakar. Ketika sampai di Quba Nabi menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Disini Nabi membangun masjid pertama sebagai tempat ibadah. Setelah menyelesaikan urusan di Mekkah Ali menyusul mereka. Kedatangan Nabi bersama rombongan disambut gembira oleh penduduk Yastrib dan sahabat Nabi yang telah menanti kedatangan mereka. Sejak kedatangan Nabi kota Yastrib diganti menjadi Madinah al-Munawarah.

 

  1. D.    Penyebaran Islam Setelah Hijrah

Setelah hijrah di Madinah penyebaran Islam lebih bersifat politik. Karena Islam di Madinah memiliki kekuatan. Nabi tidak hanya sebagi pemimpin agama tapi juga sebagai pemimpin negara. Untuk memperkokoh negara dan masyarakat baru itu Nabi meletakkan dasar kehidupan bermasyarakat. Yang pertama yaitu membangun masjid, selain untuk ibadah shalat juga sebagai sarana untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, disamping sebagai tempat musyawarah membahas masalah yang dihadapi, sekaligus sebagai pusat pemerintahan.

Yang kedua yaitu Ukhuwah Islamiyah, Nabi mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Persaudaraan berdasarkan agama menggantikan persaudaraan karena darah. Yang ketiga yaitu mengadakan persaudaraan dengan selain agama Islam, karena ketika itu masih ada masyarakat yang menganut nenek moyang. Nabi Muhammad mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi. Setiap golongan mempunyai hak tertentu di bidang politik dan agama. Semua masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri itu dari serangan luar. Dalam bidang sosial Nabi meletakkan dasar persamaan antar manusia. Perjanjian itu kemudian disebut sebagai “Piagam Madinah”.

Dengan berdirinya negara Madinah kedudukan Islam menjadi kuat dan membuat musuh Islam menjadi risau. Untuk antisipasi serangan dari luar Nabi membentuk pasukan tentara. Kaum muslimin boleh berperang dengan dua alasan: 1). Untuk melindungian  diri dan mempertahankan hak miliknya, 2). Menjaga keselamatan dalam penyebaran agama dan mempertahankan diri dari yang menghalanginya. Nabi juga mengadakan perjanjian damai di sekitar Madinah untuk memperkuat kedudukan Madinah.

Selanjutnya kaum muslimin selalu menghadapi berbagai peperangan dengan orang-orang kafir. Perang pertama yang dihadapi oleh kaum muslimin adalah perang Badar. Pasukan Nabi berjumlah 305 menghadapi 900 pasukan Qurays ada tanggal 8 Ramadhan tahun 2 H. Pasukan Nabi menuai kemenangan dengan cemerlang.

Pada tahu 3 H terjadi perang Uhud, pasukan Qurays membawa pasukan sebanyak 3000 pasukan berunta, 200 pasukan berkuda di bawah komando Khalid bin Walid. 700 diantaranya berpakaian besi. Sementara di pihak Nabi pasukannya berjumlah 1000. Namun di tengan jalan seorang munafik Abdullah bin Ubay bersama 300 orang yahudi membelot dan kembali ke Madinah. Mula-mula umat Islam menang dalam perang, namun karena tergiur harta pasukan yang disuruh berjaga ikut berebut harta rampasan. Akhirnya umat Islam diserang kembali karena lalai dan menuai kekalahan. Bahkan Nabi terluka dan sekitar 70 pejuang Islam mati syahid.

Sepulangnya perang orang-orang Yahudi yang membelot diusir dari Madinah dan mengungsi ke Khaibar. Pada tahun ke 5 H, orang Yahudi bergabung dengan kafir Mekkah hendak menyerbu Madinah dengan 24.000 pasukan. Atas usulan Salman Al-Farisi, Nabi memerintahkan umat Islam menggali parit. Sehingga pasukan musuh tertahan diluar Madinah sebulan lamanya. Perang ini disebut perang Khandaq. Pasukan musuh putus asa karena turun badai dan angin amat kencang. Mereka kembali ke daerahnya masing-masing. Namun orang Yahudi yang berada di Madinah juga berkhianat di bawah pimpinan Ka’ab bin Asad. Mereka akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Pada tahun 6 Hijriyah disyariatkan ibadah haji, Nabi memimpin sekitar 1000 kaum muslimin berpakaian ihram untuk melakukan ibadah umrah, bukan berperang. Sebelum masuk Mekkah mereka berkemah di Hudaibiyah. Karena tidak diizinkan masuk Mekkah maka diadakanlah perjanjian Hudaibiyah yang berisi: 1) Kaum muslimin belum boleh masuk Mekkah tahun ini melainkan ditangguhkan tahun depan, 2) Lama kunjungan sampai tiga hari saja, 3) Kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Mekkah yang melarikan diri ke Madinah, sedang sebaliknya kaum Qurays tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Mekkah, 4) Selama sepuluh tahun diadakan genjatan senjata antara masyarakat Madinah dan Mekkah, 5) Tiap kabilah yang ingin masuk ke dalam kaum Qurays atau muslimin bebas melakukannya tanpa ada rintangan.

Perjanjian ini membawa angin segar karena menunjukkan kemenangan diplomatik Islam dan jalan untuk menguasai ka’bah mulai tebuka. Ada dua faktor yang mendorong kebijaksanaan ini: pertama, Mekkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, Islam bisa tersebar keluar. Kedua. Apabila suku Nabi sendiri dapat diIslamkan, Islam akan memperoleh dukungan yang kuat karena kaum Qurays mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar.

Setelah perjanjian ini banyak kaum Qurays yang masuk Islam. termasuk Khalid bin Walid yang kemudian menjadi panglima perang Islam. Nabi mengirim utusan kepada seluruh negeri unutk mengajak mereka masuk Islam. Alhasil dalam dua tahun banyak penduduk negeri lain yang masuk Islam hanya tinggal Ghasaan saja yang belum masuk Islam.

Karena merasa terpojok dan dirugikan dari perjanjian hudaibiyah maka orang kafir Qurays Mekkah membatalkannya secara sepihak. Melihat keadaan tersebut Nabi menyerbu Mekkah dengan membawa pasukan 10.000. Sebelum masuk Mekkah Nabi mengutus Utsman bin Affan untuk menyampaikan pesan kepada Abu Sufyan sebagai pemimpin Qurays. Pesan itu berisi, “Siapa yang masuk masjidil haram akan aman, siapa yang masuk ke dalam rumah akan aman dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan aman”. Akhirnya pasukan Nabi bisa masuk dan mengalahkan Mekkah tanpa adanya perlawanan dari penduduk Mekkah. Kejadian ini selanjutnya disebut dengan “Fathul Mekkah”.

Dengan dikalahkannya orang Qurays dan masuk Islam kekuatan Islam semakin kuat dan besar. Perjuangan belum berakhir karena umat Islam harus berhadapan dengan bangsa Romawi. Dengan kekuatan yang besar Nabi memimpin pasukannya untuk menghadapi tentara Romawi. Namun melihat kekuatan Islam tentara Romawi ketakutan dan melarikan diri. Perang ini disebut perang Tabuk dan Nabi tidak melakukan pengejarran tapi berkemah di Tabuk. Disini Nabi melakukan perjanjian dengan penduduknya dan dengan demikian daerah perbatasan itu dapat dirangkul dalam barisan Islam. ini merupakan perang terakhir yang diikuti Nabi.

Pada tahun 9 dan 10 H seluruh penduduk negeri di jazirah Arab telah beada di dalam kekuasaan Islam. persaudaraan yang dijalin tidak lagi karena suku tapi karena agama. Pada tahun 10 H Nabi menunaikan haji yang terakhir “Haji Wada’”. Dalam haji ini Nabi menyampaikan khotbah yang bersejarah bagi umat Islam yang isinya: larangan menumpahkan darah kecuali dengan haq dan larangan mengambil harta orang lain dengan batil, karena nyawa dan harta benda adalah suci. Larangan riba dan menganiaya, perintah untuk memperlakukan istri dengan baik dan lemah lembut dan perintah menjauhi dosa, semua perselisihan di antara mereka di zaman jahiliyah harus dimaafkan, pembalasan darah sebagaimana zaman jahiliyah sudah tidak dibenarkan, persaudaraan dan persamaan di antara manusia harus ditegakkan, hamba sahaya harus diperlakukan dengan baik, mereka makan seperti apa yang dimakan tuannya dan memakai seperti yang dipakai tuannya, dan yang terpenting adalah bahwa mereka harus berpegang teguh pada al-Qur’an dan Hadits. Isi khotbah ini menjadi prinsip yang mendasari gerakan Islam yang meliputi kemanusiaan, persamaan, keadilan sosial, keadilan ekonomi, kebajikan dan solidaritas.

Setelah itu Nabi kembali ke Madinah. Beliau mengatur organisasi kabilah yang telah masuk Islam. petugas keamanan dan para da’i dikirim ke berbagai daerah dan kabilah untuk mengajarkan Islam, mengatur peradilan dan memungut pajak. Dua bulan kemudian Nabi menderita sakit demam. Akhirnya Nabi meninggal dunia pada tanggal 12 Robi’ul Awal 11 H/8 Juni 632 M. Nabi Muhammad meninggal dirumah istrinya Siti Aisyah.

Dari sejarah perjalanan Nabi Muhammad ini dapat disimpulkan bahwa disamping sebagai pemimpin agama, beliau juga seorang negarawan, pemimpin politik dan administrasi yang cakap. Hanya dalam 11 tahun beliau berhasil menundukkan seluruh jazirah Arab ke dalam kekuasaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s