PINTU IKHLAS

PINTU IKHLAS

Sering kali kita mengklaim diri sebgai orang yang ikhlas. Tidak jarang kita menuduh orang lain tidak ikhlas. Padahal ikhlas itu persoalan hati. Tidak tampak di mata, tidak terdenganr oleh telinga, dan tidak tercium oleh hidung. Bahkan tidak terasa oleh kulit.

Sejak awal Allah telahmemperingatkan kita untuk beribadah dengan ikhlas. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

Imam ar-Rozi dalam tafsir Mafatihul al-Ghaib mengatakan, yang dimaksud dengan mukhlisin dalam ayat tersebut adalah orang yang melakukan kebaikan karena kebaikannya. Melaksankan kewajiban karena kewajiban itu sendiri, bukan karena orang lain. Karena kata ikhlas berarti melakukan sesuatu dengan hati yang tulus dan murni tanpa ada campuran apapun.

Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, menggambarkan ikhlas dengan memurnikan setiap amal perbutan dari campuran apapun, sedikit ataupun banyak, yang tertinggal hanalah mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah), tidak ada motivasi lain. Ikhlas semacam ini biasanya terwujud jika dibangun rasa cinta dan tergila-gila (zauq) kepada-Nya. Ia sengaja menenggelamkan diri pada kepentingan akhirat dan tak ada sedikit pun kecintaan kepada dunia.

Ada perbedaan yang tipis antara ikhlas, syirik da riya. Perbuatan yang dilakukan untuk dan karena orang lain disebut syirik. Tidak melakukan sesuatu gara-gara manusia dinamakan riya’. Sedangkan ikhlas terletak diantara keduanya, yakni mengerjakan dan meninggalkan sesuatu, bukan untuk manusia, tapi semata-mata untuk Allah SWT.

Tanda-nda ikhlas menurut Dzunun al-Misri adalah pertama, pujian dan cacian yang diterima dianggap sama, tidak ada bedanya (biasa-biasa saja). Kedua, perbuatan yang telah dilakukan tidak dipedulikan lagi. Ketiga tidak mengharap imbalan pahala di akhirat. Yang ada dibenaknya, perbutan itu diserahkan hanya kepada Allah. Terserah Allah apa yang mau dibrikan kepadanya (al-Adzkar an-Nawawi: 5, Risalah al-Qusairiyah: 208).

Dari gambaran diatas, ikhlas terbagi menjadi dua macam. Pertama, ikhlas dalam amal, yakni perbutan yang dia lakukan semata-mat karena Allah SWT, mengagungkan perintah dan memenuhi panggilannya. Bukan untuk memperolah pujian dan simpati dari orang lain. Ikhlas dalam amal ini, ada tiga tahapan. Tahapan pertama, melakukan sesuatu hanyak untuk melaksanakan perintah dan menegakkan hak kehambaannya kepada Allah semata. Tahapan kedua, mengerjakan ibadah untuk memperolah pahala di akhirat. Tahapan ketiga (terendah), melakukan sesuatu untuk mendapatkan kemuliaan di dunia dan selamat dari penyakit dan godaan dunia.

Kedua, ikhlas karena Allah dalam mencari pahala. Tujuannya untuk memperolah pahala sebgai imbalan dari perbuatan baik yang dilakukannya (Siraj-at-Thalibin II, 359-362).

Sumber: Koran Republika edisi Sabtu, 14 Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s