SIFAT TAMAK SUMBER KEHINAAN

 

مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلاَّ عَلَى بِذْرِ طَمَعَ.

“Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan it, kecuali diatas bibit tamak (kerakusan).

Sifat tamak itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.

Abu Bakar al-Warraq al-Hakiem berkata: Andaikan sifat tamak itu dapat ditanyai: Siapakah ayahmu? Pasti jawabnya: Ragu terhadap takdir Allah. Dan bila ditannya: Apakah pekerjaanmu? Jawabnya: Merendahkan diri. Dan bila ditanya: Apakah tujuanmu? Tidak dapat apa-apa

Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. baru masuk ke masjid jami’ di Basrah, didapatkan banak orang yang memberi ceramah di dalamnya. Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yang ternyata tidak dapat menjawabnya dengan tepat, diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majelis al-Hasan al-Basry, ia bertanya: Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu, jika engkau dapat menjawab, aku izinka engkau terus mengajar disini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebgaimana teman-temanmu yang telah aku usir itu. Jawab al-Hasan: Tanyakan sekehendakmu.

Sayyidina Ali bertanya: Apakah yang dapat mengukuhkan agama? Jawab al-Hasan: Wara’ (yakni berjaga-jaga diri/menjauh dari segala syubhat dan haram). Lalu ditanya: Apakah yang dapat merusak agama? Jawabnya: Tamak (rakus). Imam Ali berkata kepadanya: Engkau boleh tetap mengajar disini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi caramah kepada orang-orang.

Seorang guru berkata: Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli sesuatu keperluan dari oarang yang mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku, mungkin ia tidak menerima uangku ini, tiba-tiba muncul suara yang berbunyi: keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk.

Wara’ dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah. Wara’ yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan, atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah ta’ala. Sahl bin Abdullah berkata: Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, sebab itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman.

Semua hamba pasti akan makan rizqinya, hanya mereka berbeda-beda. Ada yang makan dengan hina-hina yaitu peminta-minta. Ada yang makan dengan bekerja keras yaitu kaum buruh, ada yang makan rizqinya dengan menunggu, yaitu pedagang yang menunggu laku barangnya. Adapun yang makan rizqinya dengan rasa mulia, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan.

مَا قَادَكَ شَىْءٌ مِثْلُ الوَهْمِ.

Tiada sesuatu yang dapat memimpin/menuntun engkau seperti angan-angan (bayangan yang kosong).

Wahm: ialah tiap-tiap angan-angan terhadap sesuatu selain dari Allah, yang berbarti angan-angan terhadap sesuatu yang tidak mengkin terjadi.

أَنْتَ حُرٌّ مِمَّا أَنْتَ عَنْهُ آيِسٌ وَعَبْدٌ لِمَا أَنْتَ لَهُ طَامِعٌ.

Engkau merdeka dari segala sesuatu ang tidak engkau butuhkan, dan engkau tetap menjadi hamba kepada apa yang engkau harapkan (inginkan).

Andaikan tidak ada keinginan-keinginan yang palsu, pasti orang akan bebas merdeka tidak akan diperbudak oleh sesuatu yang tidak berarti (berharga). Contohnya: Burung elang rajawali yang terbang tinggi di angkasa lepas, sukar seorang akan dapat menangkapnya, tetapi ia melihat sepotong daging yang tergantung pada perangkap, maka ia turun oleh sifat tamaknya dari angkasa itu, maka terjebak oleh perangkap itu sehingga ia menjadi permainan anak-anak kecil.

Fateh al-Maushily ketika ditanya tentang contoh orang yang menurut syahwat hawa nafsu dan sifat tamaknya, sedang tidak jauh dari tempat itu ada dua anak yang sedang makan roti, yang satu hanya makan roti, sedang yang kedua makan roti dengan keju, lalu yang makan roti ingin keju. Jawab temannya: Jika engkau suka saya jadikan anjingku, saya beri keju. Jawab yang minta: Baiklah. Maka diikat lehernya dengan tali sebagai anjing dan dituntun. Berkata Fateh kepada orang yang bertanya: Andaikata anak itu tidak tamak pada keju, niscaya tidak menjadi anjing.

Terjadi ada seorang murid didatangi gurunya, maka ia ingin menjamu gurunya, lalu ia ingin keluarkan roti tanpa lauk-pauk, dan tergerak dalam hati murid sekiranya ada lauk pauknya tentu lebih sempurna. Kemudian setelah selesai dimakan oleh guru apa yang dihidangkan itu, bangunlah guru itu keluar tiba-tiba dibawa ke penjara untuk ditunjukkan berbagai macamnya orang-orang yang dihukum, baik yang dipukul atau dipotong tangan dan lain-lainnya. Lalu berkata guru kepada muridnya: Semua oarang-orang yang kau lihat itu, yaitu oarang yang tidak sabar makan roti saja tanpa lauk pauk.

Ada seorang yang baru dikeluarkan dari penjara, yang masih terikat kakinya dengan rantai ia meminta-minta sepotong rati kepada oarang, maka dikatakan oleh orang yang dimintai, Andaikan sejak dulu engkau terima dengan sepotong roti, makan takkan terikat kakimu itu.

Ada seorang melihat seorang haim sedang makan dari rerontokan buah yang jatuh di sungai, maka orang itu berkata: Hai orang hakim, sekiranya engkau mau kerja pada raa tentu engkau tidak sampai makan rerontokan buah dalam sungai. Maka dijawab oleh hakim: Andaikan engkau suka menerima makanan ini tidak usah menjadi buruhnya saja (budak raja).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s