HAKIKAT IKHLAS

MENYEMAI  KEIKHLASAN

Oleh Abu Arafah

 

“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal, kecuali yang murni (ikhlas) dan hanya mengharap ridhaNya.”

(HR. Abu Dawud dan Nasa’i)

EDITOR:  JOKO PURWANTO

Betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh, berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas maka tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, berjihad di jalan Allah  kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, juga tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, yang hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai!

Ikhlas, terletak pada niat hati. Sementara niat ini sangat penting, karena niat adalah pengikat amal. Orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.

 

Hakekat ikhlas

Secara bahasa Ikhlas berarti jernih dari kotoran. Orang yang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Ketika sedang memasukkan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi hanya terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Hasan al Banna berkata : “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah hendaknya seorang akh dengan ucapan, perbuatan dan jihadnya, semua hanya mengharap ridha Allah, tanpa melihat dan mengharap imbalan, pangkat, kedudukan, popularitas.”

Apapun yang dilakukan, kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah.

 

Ikhlas dalam pandangan ulama’

  1. Ya’qub: “Orang yang ikhlas adalah orang yang dapat merahasiakan kebaikannya, sebagaimana ia merahasiakan keburukannya.”
  2. Fudhail bin Iyadh: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas adalah apabila Allah menyelamatkan anda dari keduanya.”
  3. Ibnul Qoyyim al Jauziyah: ”Seandainya ilmu tanpa amalan itu bermanfaat, tentu Allah tidak mencela para pendeta Yahudi (yang tidak mengamalkan ilmunya) dan senadainya amalan tanpa keikhlasan itu dianggap, niscaya Allah tidak mencela orang-orang munafiq.”
  4. Al Ghazali: “Semua orang pasti akan binasa kecuali yang berilmu, orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal, orang yang beramal binasa kecuali yang ikhlas.”
  5. Seorang alim: “Ilmu itu laksana benih sedangkan amal laksana tanaman dan air adalah ikhlas.”

 

Tanda-tanda ikhlas                     

  1. Su’uzhan (prasangka buruk) terhadap diri sendiri dan menghilangkan rasa sombong, ujub, riya’ dalam beramal. (QS. 23:57-60). Tidak merasa dirinya lebih baik dari orang lain, karena tidak ada jaminan semua amalannya diterima.
  2. Waspada dan selalu muhasabah (introspeksi diri). Dia selalu sibuk mengoreksi kekurangan dirinya, sehingga tidak sempat mengoreksi orang lain.
  3. Senantiasa stabil (tidak terpengaruh) pada saat dipuji maupun dicela (QS. 5:54), karena tujuannya hanya Allah semata, bukan pujian dan materi.
  4. Merasa bahagia jika mengetahui kesuksesan orang lain, karena pada hakekatnya nikmat yang diterima saudaranya adalah nikmat yang juga bisa dia rasakan dan bermanfaat untuk dakwah Islam, sehingga tidak ada hasad dan dengki pada saudaranya.
  5. Terus menerus dan istiqamah dalam menjaga kesungguhan beramal shalih, baik itu dilihat orang lain ataupun tidak.
  6. Jika hadir bersama orang lain tidak menonjolkan diri, dan ketika tidak hadir dia tidak merasa ingin ditanyakan.

 

Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapakan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.

Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Walaupun sederhana kata-kata kita, jika disertai dengan keikhlasan, maka Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qalbu manusia. Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.

 

Buah keikhlasan

Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.

Bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.

Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak menelan kekecewaan dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan kecewa karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.

Keikhlasan akan melahirkan kekuatan. Sebagaimana kisah seorang ahli ibadah yang keluar dari rumahnya untuk menebang satu pohon yang disembah oleh satu kaum. Di tengah jalan dia dicegat oleh iblis yang menyamar sebagai manusia. Mereka berdua bertarung, yang pada akhirnya dimenangkan oleh sang ahli ibadah itu. Kejadian itu terulang besok dan lusanya. Akhirnya iblis membujuk pada laki-laki itu agar dia mengurungkan niatnya menebang pohon dengan imbalan uang dua dinar yang bisa dia dapatkan setiap pagi dari balik bantalnya.

Laki-laki itu setuju dengan tawaran itu. Dia pulang dan setiap pagi dia dapatkan uang dari balik bantalnya yang bisa digunakan untuk belanja dan membeli segala kebutuhan. Kejadian itu berjalan satu bulan. Menginjak pada bulan ke dua, dia tidak lagi menemukan uang itu sehingga menimbulkan kemarahannya. Maka dia keluar sambil membawa kapak. Di tengah jalan, dia kembali dicegat Iblis, mereka kemudian bertarung. Kali ini Iblis menang. Ketika ditanyakan kepada Iblis tentang rahasia kemenangannya pada pertarungan pertama dan ke dua, Iblis menjawab bahwa sebabnya adalah dia bertarung karena ikhlas membela aqidahnya, sedangkan kali ini dia bertarung hanya karena ambisi pribadi dan keuntungan dunia semata-mata.

Keikhlasan juga bisa menjadikan perbuatan biasa mengandung pahala dan menjadikan seseorang ditolong dari kesulitan. Seperti kisah tiga orang yang terjebak di sebuah gua dan tidak bisa keluar karena batu besar yang menutup pintu gua. Ketiganya memohon kepada Allah dengan amal-amal baiknya (tawassul). Yang pertama dengan berbuat baik kepada orang tua, yang ke dua dengan tidak berzina pada saat yang memungkinkan. Dan yang ke tiga karena dia punya pegawai yang belum diberi gaji yang kemudian dia jadikan modal usaha dan mendapat keuntungan yang berlipat ganda berupa satu lembah sapi dan kambing, kemudian pegawainya datang dan dia beri semua keuntungan itu. Pada akhirnya, batu bergeser dan pintu terbuka dengan izin Allah.

Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.

Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :“Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita faham bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).”Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.Allah yang Mahatinggi dan Maha sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah yang Maha gagah dan Maha dahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Nah, saudaraku. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahu Akbar]

 

Bahaya Amal Tanpa Ikhlas

 

Dikisahkan dalam hadits shahih riwayat Muslim dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya,” Sesungguhnya orang pertama yang dihisab pada hari kiamat kelak adalah seseorang yang mati syahid. Kemudian orang itu dihadirkan ke hadapan Allah dan diperlihatkan kepadanya semua nikmat yang diterimanya sehingga dia mengetahuinya, maka Allah bertanya: “Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?” Ia menjawab:”Aku berjuang di jalanMu sehingga aku mati syahid.” Allah menjawab:”Kau bohong! Kau berperang karena ingin disebut pemberani, dan itu telah kau terima”. Kemudian Allah memerintahkan agar diseret wajahnya sampai dilemparkan ke neraka. Kemudian seorang yang telah menuntut ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca al Qur’an, dia dihadapkan kepada Allah dan diperlihatkan segala nikmat yang dia peroleh sehingga dia ketahui semua. Allah bertanya: ”Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Dia menjawab: Aku telah menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku bacakan al Qur’an.” Kata Allah:”Kau bohong ! Kau menuntut ilmu agar mendapat gelar orang alim dan kau membaca al Qur’an agar disebut qari’.” Kemudian Allah memerintahkan agar dia diseret dan dilempar ke neraka. Dan yang terakhir, seorang yang telah diberi kekayaan oleh Allah. Ia dihadapkan kepada Allah dan diperlihatkan nikmat-nikmatnya. Kemudian Allah bertanya: “Apa yang kau perbuat dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab: “Aku tidak pernah melalaikan kewajiban menginfaqkan harta yang aku peroleh disetiap jalan yang Kau sukai.” Allah menjawab: ”Kau bohong ! Kau berbuat demikian lantaran ingin dikatakan sebagai dermawan.” Kemudian Allah memerintahkan agar dia diseret dan dilemparkan ke neraka.”

Tentang jackliss

hamba Allah
Tulisan ini dipublikasikan di ISLAM. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s