MANUSIA DAN TUGASNYA SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI

  1. A.      QS: AL BAQARAH 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

 

KOSA KATA QS AL BAQARAH : 30

Menciptakan / menjadikan : جَاعِلٌۭ

Penerima mandat penuh dari allah untuk menegakan hukum-huumNya: خَلِيفَةًۭ

Engkau menciptakan : تَجْعَلُ

Menumpahkan : يَسْفِكُ

Kami memahasucikan (membersihkan dari segala sifat yang tidak layak) : نُسَبِّحُ

Kami memahasucikan (mengakui sifat-sifat kemahasempurnaan yang semestinya) : نُقَدِّسُ

Maha mengetahui : أَعْلَمُ

apa-apa yang tidak kamu ketahui : لَا تَعْلَمُونَ

 

Penjelasan Surat Al Baqarah ayat 30

Jika sembarangan dalam menafsirkan ayat, maka Surat Al Baqarah :30 tafsirannya seperti dibawah ini ;

  • Ketika hendak menciptakan manusia untuk diberi mandat penuh sebagai khalifah dibumi, Allah SWT terlebih dahulu ingin mendengarkan pendapat para malaikat.Makna yang demikian ini amat sangat mustahil bagi allah SWT
  • Allah SWT memberitahukan kepada para malaikat tentang rencana tersebut, lalu ditentang dan diprotes oleh para malaikat. Makna yang demikian ini juga sangat mustahil bagi Allah dan mustahil pula bagi para malaikat. 

Mengenai tafsir Surat Al Baqarah : 30 di kalangan para ahli tafsir ada 2 pendapat :

(1) Pendapat para Mufassir Salaf ( Pakar Tafsir Klasik / Kuno )

Lebih selamat kalau ayat tersebut kita anggap tidak ada yang lebih tahu maksudnya kecuali Allah SWT. Tetapi kita tetap yakin bahwa Allah tidak memberikan informasinya kepada kita kecuali untuk semata-mata kita ambil sebagai landasan dalam bersikap dan bertindak. Hanya saja kita tidak tahu maksud sebenarnya yang tersirat dalam ayat 30 tersebut, sekalipun dengan menggunakan bahasa yang sebenarnya tidak sulit untuk dipahami.

Berbeda dengan ayat sesudahnya QS Al Baqarah : 31 yang dapat kita pahami bahwa manusia oleh Allah telah diberi keistimewaan tertentu dengan dibekali berbagai macam ilmu, agar ia mampu mengelolah dunia beserta dengan isinya yang memang dipersiapkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Akan tetapi gambaran dalam ayat 30 tentang perdebatan atau tanya jawab antara Allah dan para Malaikat sama sekali tidak kita ketahui maksudnya. Kecuali kalu kita korelasikan dengan ayat 31, maka ada beberapa kemungkinan tentang maksud ayat 30 itu sebagai berikut :

  1. manusia tidak dituntut untuk mengetahui semua rahasia dan hikmah yang tersirat dalam proses awal penciptaan dirinya, karena para malaikat sendiri juga tidak tahu.
  2. Ketika para malaikat bertanya-tanya, maka Allah berkenan memberikan petunjuk yang intinya menghendaki supaya mereka tunduk dan patuh tanpa perlu mengajukan pertanyaan, kemudian memberikan penjelasan bahwa manusia telah dibekali dengan berbagai cabang ilmu yang tidak mereka miliki. Lalu allah pamerkan kemampuan manusia itu kepada para malaikat sebagaimana disebutkan dalam ayat 31.
  3. Allah merestui hambahnya untuk bertanya tentang rahasia penciptaan manusia yang mereka tidak ketahui. Pertanyaan malaikat yang disebutkan dalam ayat 30 itu boleh jadi dalam bentuk ucapan jika mereka berpotensi untuk berbicara seperti kita, dan boleh jadi dalam bentuk sikap tunduk yang disertai dengan permohonan agar mereka diberi ilmu untuk dapat mengetahui sesuatu yang musykil (sulit dipahami).
  4. Ayat 30 itu bertujuan untuk menghibur Nabi Muhammad SAW yang lagi susah dalam menghadapi pelecehan kaum musyrik terhadap dakwahnya, bahkan beliau lebih susah lagi ketika menghadapi tantangan mereka untuk meminta bukti yang dapat mereka pegang. Maka Allah pun memberikan contoh kepada beliau tentang abagimana menanggapi tuntutan malaikat untuk meminta penjelasan tentang rahasia yang tidak mereka ketahui. Dalam hal ini nabi termasuk beliau sebaiknya selalu tetap bersabar dalam menghadapi kaum penentang dan tetap menyikapi mereka sebagaimana Allah menyikapi para malaikat, yaitu dengan memberikan argumentasi yang tidak terbantahkan.

(2) Pendapat Golongan Mufassir Kholaf (Modern)

Surat Al Baqarah : 30 tergolong Ayat Mutasyabihat yakni ayat yang dalam upaya mengetahui maksudnya diperlukan Ta’wil.(memindahkan ayat dari makna tekstual ke dalam makna kontekstual agar bisa diterima oleh akal yang sehat). Jika sebuah ayat tidak memerlukan ta’wil maka tergolong Ayat Muhkamat.

Ayat 30 dalam Surat Al Baqarah itu disusun oleh Allah SWT dalam bahasa Allegoris (Majasi / kias) tentang proses awal kejadian manusia beserta karakteristiknya, tujuanya adalah supaya mudah dipahami. Dalam ayat tersebut dikisahkan bahwa para malaikat mengajukan permohonan kepada Allah agar diberitahu tentang bagaimana sebenarnya makhlik baru yang bernama manusia itu diciptakan sebagai Khalifah, yang pengertiannya menurut mereka adalah makhluk yang bebas bertindak dan bebas menentukan. mereka merasa cemas, jangan-jangan manusia itu bisa berbuat sesuatu yang tidak membawa kemaslahatan dimuka bumi, sehingga tidak sesuai dengan tujuan semula mereka diciptakanya. Melihat sikap para malaikat seperti itu, maka Allah memberikan ilham (inspirasi) kepada mereka agar tunduk dan patuh kepada Dzat Yang Maha Tahu. Apapun yang menyempit dalam pengetahuan malaikat, jin, manusia justru sangat luas dalam pengetahuan Dzat Yang Maha Tahu.

Barangkali jawaban dari Allah itu belum meredakan kecemasan para malaikat. Karena itu, dalam ayat 31 dijelaskan bahwa Nabi Adam sebagai manusia pertama oleh Allah telah diberi pengetahuan tentang segala sesuatu lalu dipamerkan kepada para malaikat. Barulah mereka tahu bahwa ” tujuan pokok penciptaan manusia adalah menyiapkan penyebaran ilmu tentang segala sesuatu yang tidak diketahui oleh malaikat, sehingga manusia layak diberi mandat penuh sebagai khalifah dibumi. sedangkan pertumpahan darah antar sesama manusia yang mereka cemaskan itu tidak akan menghilangkan hikmah dan tujuan pokok penciptaan manusia beserta pemberian mandat kekhalifahan kepadanya.

Agama Islam mengajarkan bahwa manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Allah (`abdullah) dan sebagai wakil Allah (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Allah, manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. Tetapi sebagai khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Allah Maha Besar maka manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi memiliki tanggung jawab dan otoritas yang sangat besar.

Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil Tuhan manusia juga diberi otoritas ketuhanan; menyebarkan rahmat Tuhan, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan, menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati manusia. Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Allah, manusia memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, manusia dilengkapi Tuhan dengan kelengkapan psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, syahwat dan hawa nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensil untuk terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang.

Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Pertama, memakmurkan bumi (al ‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).

  1. Memakmurkan Bumi

Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata, dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu. Memakmurkan bumi juga berarti menjaga lingkungan sekitarnya, menjaga kelestarian hutan dan para penghuninya, karena jika semuanya terjaga benar oleh manusia, maka bencana yang diakibatkan oleh kesalahan manusia akan sedikit kemungkinan terjadinya.

  1. Memelihara Bumi

Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebiasaan jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. Oleh karena itu, hal semacam itu perlu dihindari.

Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia mempunyai tujuan yang jelas, yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa (pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Petunjuk yang dimaksud adalah agama (Islam).

Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara bumi dari kerusakan?, karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi – nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum bani Israil, seperti yang Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4:

!$oYø‹ŸÒs%ur 4’n<Î) ûÓÍ_t Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ’Îû É=»tGÅ3ø9$# ¨b߉šøÿçGs9 ’Îû ÇÚö‘F{$# Èû÷üs?§tB £`è=÷ètGs9ur #vqè=ãæ #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÍÈ

Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar“. (QS Al Isra : 4)

Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

 

 

 

  1. B.       QS ADZ-DZARIYAT : 56

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

KOSA KATA QS ADZ-DZARIYAT : 56

dan tidaklah : وَمَا

Aku menciptakan : خَلَقْتُ

Manusia : ٱلْإِنسَ

kecuali :  إِلَّا

Supaya mereka menyembah kepada-Ku : لِيَعْبُدُونِ

Ayat ini tidak boleh ditafsirkan secara berdiri sendiri, karena masih ada kaitanya dengan ayat-ayat 52 – 60. Ayat-ayat ini merupakan merupakan satu paket sehingga dalam kitab-kitab tafsirpun tidak ditafsirkan secara berdiri sendiri-sendiri.

QS ADZ-DZARIYAT : 52 – 55

كَذَٰلِكَ مَآ أَتَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا۟ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila”.

أَتَوَاصَوْا۟ بِهِۦ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌۭ طَاغُونَ

Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ فَمَآ أَنتَ بِمَلُومٍۢ

Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

Ayat- ayat 52 – 55 dalam Surat Adz-Dzariyat secara berurutan menjelaskan bahwa setiap rosul menghadapi tantangan yang sama, yaitu orang-orang yang mengaku menyembah Allah, tetapi allah diserupakan atau dianggap menyatu dengan patung, berhala dan sebagainya.selain itu mereka menganggap Rasul allah sebagai tukang tenung, dukun, orang gila dan sebagainya. Maka dalam rangka memberikan motivasi kepada Nabi Muhammad SAW allah bertanya “Apakah mereka yang ingkar itu dapat disadarkan?” Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh allah : “Tidak, bahkan mereka semakin angkuh, lalim dan melampaui batas”. Karena itu Nabi Muhammad diminta oleh allah supaya tidak mempedulikan kaum Quraisy yang ingkar dan tidak perlu melayani debat mereka, karena menurut pandangan Allah Beliau sudah menyampaikan misinya secara optimal dan maksimal. Selanjutnya beliau dimotivasi lagi oleh allah supaya terus menyampaikan peringatan tanpa putus asa, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman, dan mereka inilah yang mendapat petunjuk dari allah.

Setelah memberikan penjelasan-penjelasan tersebut diatas, barulah dalam ayat 56 ditegaskan bahwa Jin dan manusia tidak diciptakan semata-mata kecuali untuk mnerima kewajiban menyembah dan mengabdi kepada Allah. Lebih lanjut dalam ayat 57 ditegaskan bahwa penekana perintah beribadah itu bukan berarti Allah membutuhkan mereka, melainkan merekalah yang membutuhkan allah Dia Yang Maha Pemberi Rizki dan Maha Perkasa. Selanjutnya ayat 58-60 berisi ancaman yang ditujukan kepada seluruh penduduk makkah yang ingkar sebagaimana yang telah ditimpahkan oleh allah kepada umat-umat terdahulu.

لِيَعْبُدُونِ begitulah bagian akhir dan terpenting yang disebutkan dalam surat Adz-Dzariyat : 56. Penafsiran terhadap lafadz tersebut dari kalangan para ahli tafsir ternyata berbeda-beda, antara lain :

  1. Imam Mujahid menafsirkan dengan ليعرفو ني  artinya : “supaya mereka mengenal-Ku”. Alasanya : Seandainya Jin dan Manusia tidak diciptakan, niscaya mereka tidak bakal mengenal wujud Allah beserta keesaan-Nya. Penafsiran yang pertama ini diperkuat dengan hadis Qudsi (firman Allah diluar Al Qur’an yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW) : كنت كنزا مخفيا فأردت ان آعرف فخلقت الخف فبي ارفوني Artinya : “Aku adalah dzat yang tersembunyi, maka Aku ingin dikenal, oleh karena itu, Aku menciptakan makhluk, agar dengan (kehendak)Ku mereka dapat mengenal-Ku”.
  2. Imam Az-Zajjaj menafsirkan dengan makna :  لآمرهم وانهاهم artinya : “Untuk Kubebankan kepada mereka perintah dan larangan”. Penafsiran yang kedua ini berdasarkan firman Allah QS: At-Taubah : 31.   وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًۭا وَٰحِدًۭا Artinya : “Mereka tidak diperintahkan selain untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa”.
  3. Sejumlah Mufassir yang lain menafsirkanya dengan makna : “Supaya mereka tunduk dan patuh kepada-Ku”. Karena setiap makhluk baik Jin atau manusia harus tunduk kepada ketetapan Allah, patuh kepada kehendak-Nya dan mengikuti segala aturan-Nya. Mereka diciptakan atas kehendak-Nya, dan diberi rizki menurut ketentuan-Nya, sehingga tak seorang pun diantara mereka mampu memberi manfaat atau mahdlarat kepada dirinya sendiri, apalagi kepada orang lain.
  4. Sahabat Ibnu Abbas r.a. dengan didukung oleh Imam Ibnu Jarir At Thabari menafsirkanya dengan makna: ” Supaya mereka – suka atau tidak suka – mengakui keharusan menyembah-Ku”. 

Pada akhirnya penafsiran yang berbeda-beda itu dapat dikompromikan dalam satu makna : ” Bahwasanya Jin dan Manusia tidaklah diciptakan oleh Allah kecuali untuk semata-mata beribadah kepadaNya”. Penafsiran inilah yang paling umum dikenal oleh umat islam.

Macam-macam ibadah:

  1. Ibadah Makhdlah  عِباَدَةٌ مَخْضَةٌ  : yaitu ibadah yang ada kaitanya dengan hablun Minnallah ( hubungan vertikal / hubungan dengan Allah ) seperti thaharah, puasa, shalat, zakat, haji, umrah, dzikir, do’a, dan sebagainya.
  2. Ibadah Ghoiru Makhdlah عِباَدَةٌغَيْرُ مَخْضَةٌ : yaitu ibadah yang ada kaitanya dengan hablun minan nas ( hubungan horisontal / hubungan antar manusia ) seperti berbakti kepada kedua orang tua, menyantuni fakir miskin, menghormati tetangga, menyantuni anak yatim, menghormati guru, bekerja mencari rizki yang halal, menjenguk orang sakit, ta’ziah, dan sebagainya.

Selain itu ada lagi pembagian ibadah dalam dua bagian :

  1. Ibadah Muqayyadah   عِباَدَةٌ مُقَيَّدَةٌ   ; menurut K.H.AM. Sahal Mahfudh disebut ibadah formal linguistik, artinya ibadah yang perintah anjuranya disebutkan dalam nash, begitu pula mengenai teknis pelaksanaanya sudah ada ketentuan dalam nash, sehingga tidak boleh dikarang-karang, ditambah, dikurangi, ataupun diubah, misalnya : thaharah, shalat fardlu, shalat sunnah, shalat jum’at, shalat jenazah, puasa wajib, puasa sunnah, haji, umrah, qurban, aqiqah, dan sebagainya.
  2. Ibadah Muthlaqah عِباَدَةٌ مُطْلَقَةٌ  ; ibadah yang perintah / anjuranya disebutkan dalam nash tetapi teknis pelaksanaanya tidak ditentukan. misalnya : dzikir, membaca al qur’an, membaca shalawat, do’a, dan sebagainya. Ibadah Muthlaqah inilah yang bisa diterapkan menurut kondisi setempat.

Syekh Yusuf Al Qardlawi dalam kitabnya ” Al Ibadah Fil Islam ” menjelaskan bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia dapat bernilai ibadah dan berpahala manakalah memenuhi persyaratan yang beliau rangkum dalam 2 pertanyaan :

1. كَيْفَ تَعْبُدُ : “Bagaimanakah anda beribadah ?” pertanyaan ini mengisyaratkan bahwa :

  • perbuatan itu harus ada perintahnya, anjuranya, atau minimal dibenarkan dalam syariat islam
  • car pelaksanaanya tidak boleh menyimpang dari ketentuan syariat islam
  • ibadah makhdlah standarnya : tidak boleh dilakukan kecuali yang diperintahkan / dianjurkan ; ibadah ghoiru makhdlah standarnya : segala sesuatu boleh dilakukan kecuali yang diharamkan.
  • perbuatan apapun yang diperintahkan, dianjurkan, atau dibenarkan dalam islam harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan berkualitas.

2. لِماَذاَ تَعْبُدُ : ” Untuk apakah anda beribada ? “ pertanyaan ini mengisyaratkan perlunya keikhlasan dalam berbuat sesuatu yang bernilai ibadah, tidak boleh ada tendensi lain yang terselubung.

 

KORELASI ANTARA SURAT AL BAQARAH : 30 DAN SURAT ADZ-DZARIYAT : 56

  1. Surat Al Baqarah : 30 tergolong ayat yang mutasyabihat sedangkan Surat Adz-Dzariyat : 56 tergolong ayat yang Muhkamat. 
  2. Surat Al Baqarah : 30 mengungkapkan tugas manusia sebagai khalifah sedangkan Surat Adz-Dzariyat : 56 mengungkapkan tugas manusia sebagai hamba Allah.
  3. Sebagai khalifah tugasnya :
  • menegakkan hukum-hukum Allah dimuka bumi
  • mengatur dan mengelolah segenap isi bumi demi kemaslahatan hidup manusia itu sendiri
  • Sedangkan sebagai hamba Allah tugasnya beribadah kepada Allah
  1.  sebagai khalifah diperlukan pendalaman syariat islam dan penguasaan IPTEK; tentu saja kedua hal ini hukumnya ” Fardlu Kifayah ” ( kewajiban kolektif ). Sedangkan sebagai hamba Allah diperlukan penghayatan iman dan penerapan nilai-nilai taqwa dalam kehidupan sehari-hari; kedua hal terakhir inilah hukumnya ” Fardlu A’in” ( kewajiban perorangan : setiap muslim ).
  1. C.    QS AL MUKMINUN : 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)

KOSA KATA

Dan sesungguhnya: وَلَقَدْ

Kami telah menciptakan : خَلَقْنَا

Saripati : سُلالَةٍ

Air mani: نُطْفَةً

Segumpal darah : عَلَقَةً

Segumpal daging: مُضْغَةً

Tulang / tulang belulang : عِظَامًا / الْعِظَامَ

Makhluk : خَلْقًا

 

TERJEMAHAN AYAT

12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

 

PENJELASAN QS ALMUKMINUN : 12 – 14

Sebagai hamba Allah dan khalifahnya dibumi, dan sekaligus satu-satunya makhluk yang telah dipersiapkan untuk mampu berusaha memiliki ilmu, maka manusia oleh Allah disempurnakan kejadiannya sedemikian rupa,jauh lebih sempurna dari pada kejadian seluruh makhluk lainnya.Manusia memang diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, suat jenis bahan yang tidaklebih unggul dari pada asal kejadian makhluk-makhluk lainnya; bukan bahannya yang unggul melainkan proses kejadiannya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dari saripati tanah yang bersih, yang dimaksud “ Manusia “ di sini adlah nabi Adam AS, namun sebagian ahli tafsir memahaminya bukan Nabi Adam melainkan keturunan Adam, dengan alasan bahwa air mani itu tercipta dari darah yang berasal dari makanan yang dikomsumsi manusia,baik makanan hewani maupun makanan nabati, namun makanan hewani justru berasal dari zat nabati. Semua zat nabati berasal dari saripati tanah dan air. Dengan demikian, manusia pada hakekatnya tercipta dari saripati tanah yang kemudian berproses menjadi air mani.

Dr. Ahmad Muhammad Kamal mengatakan : Sesungguhnya “tanah” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan istilah تُراَبٌ  atau طِينٍ  mengandung arti kiasan (Majasi) karena manusia itu – bahkan seluruh makhluk hidup – tercipta secara kimiawi yang disebut “Protoplasma”, yakni zat hidup yang banyak mengandung sel-sel hewani dan nabati, dan secara mikro terdiri antar lain : oksigen, hidrogen, karbon, karbo hidrat, lemak, fosfor, kalsium, sodium, yodium, kalori, protein, dan zat besi. Apabila kita melihat segenggam tanah dengan mikroskop, niscaya kita akan menemukan zat-zat tersebut. Maka tidaklah berlebihan jika istilah “ Tanah” dalam Al Qur’an kita pahami sebagai “ bahasa kiasan “ karena tubuh manusia, binatang, maupun tanaman sesudah mati justru kembali menjadi tanah.

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)

Ayat ini justru memperkuat pendapat pertama yang mengatakan bahwa Nabi Adam AS tercipta dari saripati tanah, sedangkan keturunan Adam tercipta dari air mani yang terhimpun di tulang punggung kaum laki-laki, yang apabila ditanamkan ke dalam rahim kaum perempuan maka terjadilah proses pertumbuhan calon manusia dari msa kehamilan sampai masa kelahiran. Namun demikian pendapat kedua – yang mengatakan bahwa seluruh manusia tercipta dari saripati tanah – juga bisa dibenarkan, karena air mani itu pun pada hakekatnya berasal dari tanah.

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً

Potongan ayat ini menjelaskan bahwa dalam rahim, air mani berproses menjdi segumpal darah, begitulah Tahap Pertama pertumbuhan calon manusia dalam rahim ibunya. Dalam hal ini Dr. Salim Muhammad mengatakan : “Manusia tercipta dari tanah” bisa dipahami sebagi terciptanya Nabi adam AS, dan bisa juga dipahami sebagai terciptanya seluruh manusia. Sebab air mani itu dari orang laki-laki maupun perempuan, yang tercipta dari saripati makanan yang dikonsumsi oleh tubuh mereka, sedangkan semua makanan berasal dari tanah. Karena itu, yang dimaksud dengan “Nutfah” bukan hanya air mani laki-laki saja, melinkan juga sel telur perempuan (ovum). Apabila terjadi persenyawaan diantara keduanya, maka pada tahap pertumbuhannya yang pertama terwujudlah “ segumpal darah “, yakni himpunan sel-sel hidup yang berasal dari sel telur perempuan setelah dibenihi air mani laki-laki.

فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً

Potongan ayat ini menjelaskan “ tahap kedua pertumbuhan calon manusia ‘ dalam rahim, yaitu segumpal darah berproses menjadi segumpal daging yang belum menampakkan suatu bentuk atau pun lekuk-lekuk.

فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا

“Tahap ketiga” menurut potongan ayat ini adalah segumpal daging berproses menjadi sel-sel tulang.

Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir potongan ayat tersebut justru diarahkan pada pengertian bahwa “ pada tahap ketiga ini calon manusia dalam rahim sudah berkepala, bertangan dua, dan berkaki dua, sekaligus dilengkapi dengan tulang, otot, dan urat “.

فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا

Potongan ayat ini menjelaskan : “Tahap keempat” yaitu sel-sel tulang terbungkus oleh daging, otot, dan berbagai jenis urat. Ahmad Musthafa al Maraghi mengatakan : “ Dalam rahim, ‘air mani’ berubah menjadi “segumpal darah” setelah berproses selama 4 minggu, kemudian berubah lagi menjadi “segumpal daging” setelah berproses beberapa Minggu. Pada tahap berikutnya, barulah muncul sel-sel tulang beserta berbagai jenis urat yang membungkusnya.

Dalam kitab tafsir Ibnu katsir potongan ayat tersebut dipahami sebagai tahap munculnya zat pelindung, zat perekat, dan zat penguat bagi seluruh organ tubuh manusia dalam rahim.

ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ

Setelah melewati tahap keempat, maka potongan ayat ini barulah calon manusia dalam rahim itu menampakkan bentuknya dengan anatomi yang rumit dan bentuk tubuh yang relatif pantas sebagai manusia untuk dipersiapkan sebagai saksi atas kemaha kuasaan dan kemahabesaran Allah SWT.

Dalam kitab tafsir Ibnu katsir potongan ayat tersebut dimaknai sebagai tahap pemasangan roh ke dalam jasad manusia yang sudah sampai pada tahap akhir pertumbuhannya dalam rahim, sehingga jadilah ia sebagai manusia yang memiliki panca indera sekalipun belum berfungsi sepenuhnya. Pemahaman ini di perkuat dengan sebuah hadis :

إِذاَ أَتَتْ عَلىَ النُّطْفَةِ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ بَعَثَ اللّهُ إِلَيْهاَ مَلَكاً فَنَفَخَ فِيْهاَ الرُّوْحَ فِيْ ظُلُماَتٍ ثَلاَثٍ -رواه ابن أبي حاتم عن على بن أبي طالب

“Apabila telah sampai pda air mani ( masa proses ) 4 bulan lamanya, maka Allah mengirimkan malaikat kepadanya untuk memasang roh kedalamnya ( ketika air mani itu masih berada ) di antar 3 kegelapan ( yakni diantara perut, rahim, dan selaput )” –HR Ibnu Abi Hatim dari Ali bin Abi Thalib -.

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)

Baik dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir maupun tafsir al Maraghi potongan ayat tersebut dikatakan sebagai respons wahyu terhadap ucapan Umar Bin Khatab. Ketika ayat 12 – 14 dalam surat Al Mukminun diturunkan oleh Allah dengan pokok bahasan tentang asal dan proses kejadian manusia, maka dengan rasa kagun Sayidina Umar berkta :

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“ Maha sucilah Allah Pencipta Yang Paling Baik”

Seketika itu turunlah sepotong ayat yang bunyinya seperti yang diucapkan oleh Sayidina Umar. Rasulullah SAW pun bersabda : “ Ya Umar, telah turun kepadaku sepotong ayat seperti yang engkau ucapkan itu ! “.

 

Mengidentifikasi Bacaan Idh-har, Bacaan Idgham Bila Ghunnah, dan Iqlab.

  1. Bacaan Idh-har

Pada bab I kita telah mempelajari 2 jenis bacaan Nun-Mati atau Tanwin. Maka untuk kali ini kamu perhatikan Surat Al Mukminun : 12 – 14 dimuka, niscaya kamu jumpai bacaan Tanwin pada bagian ayat : خَلْقًا آخَرَ. dalam contoh ini   ً   bertemu dengan ء  merupakan salah satu diantara huruf 6 yang dikenal dengan “ Huruf Halqi “ (huruf tenggorokan), yaitu : ءح خ ه ع غ

Apabila Nun-Mati atau Tanwin bertemu dengan salah satu huruf 6 itu, maka bacaannya adalah “ Idh-har “ , artinya diucapkan dengan jelas tanpa suara dengung dan tanpa bunyi panjang. Oleh krena bertemu dengan huruf Halqi, maka bacaannya boleh juga disebut “ Idh-har Halqi “.

  1. Bacaan Idghanm Bila Ghunnah

Artinya apabila Nun-Mati atau Tanwin bertemu dengan  ر  atau  ل  , maka bunyi Nun-mati atau tanwin itu harus dilebur ke dalam bunyi huruf tersebut tnpa suara dengung dan tanpa bunyi panjang.

  1. Bacaan Iqlab

Artinya bunyi Nun-Mati atau Tanwin diganti dengan bunyi Mim-Mati ( مْ ) ketika bertemu denganب , dan diucapkan dengan suara dengung yang panjangnya maksimal 1 ½ alif ( 3 ketukan ).

 

  1. D.    QS AN NAHL : 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

 

KOSA KATA

 

Arti

Lafadz

Arti

Lafadz

Telah mengeluarkan kamu sekalian

أَخْرَجَكُمْ

Pendengaran

اَلسَّمْعَ

Kamu mengetahuinya; kamu tahu

تَعْلَمُوْنَ

Penglihatan

اَلْعَبْصَارَ

Menjadikan

جَعَلَ – يَجْعَلُ

Hati; akal budi

أَلْأَفْئِدَةَ

Bagi kamu sekalian

لَكُمْ

Kamu bersyukur

تَشْكُرُوْنَ

 

Ayat ini menurut Tafsir Al Maraghi mengandung penjelasan bahwa setelah Allah melahirkan kamu dari perut ibumu, maka Dia menjadikan kamu dapat mengetahuisegala sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui. Dia telah memberikan kepadamu beberapa macam anugerah berikut ini :

  1. Akal; sebagai alat untuk memahami sesuatu,terutama dengan akal itu kamu dapat membedakan antara yang baik dan yang jelek, antar yng lurus dan yang sest, antara yang benar dan yang salah.
  2. Pendengaran; sebagai alat untuk mendengarkan suara, terutama dengan pendengaran itu kamu dapat memahami percakapan diantara kamu.
  3. Penglihatan; sebagai alat untuk melihat segala sesuatu, terutama dengan penglihatan itu kamu dapat saling mengenal diantara kamu.
  4. Perangkat hidup yang lain; sehingga kamu dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lainnya yang kamu butuhkan, bahkan kamu dapat pula memilih mana yang terbaik bagi kamu dan meninggalkan mana yang jelek.

Semua yang di anugerahkan oleh Allah kepadamu tiada maksud lain kecuali supaya kamu bersyukur, artinya kamu gunakan semua anugerah Allah tersebut diatas semata-mata untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya yaitu :

  1. يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ : mengekploitasi sebanyak-banyak karunia Allah yang tersebar di seluruh belahan bumi-Nya demi kemaslaahatan hidup umat manusia.
  2. وَرِضْوَانًا: dan meraih keridlaan-Nya, karena dengan keridlaan-Nya itulah hidupmu menjadi semakin bermartabat.

Begitulah selayaknya yang harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai tugas hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifahnya di muka bumi.

 

PENDAPAT IMAM GHOZALI

Semua anugerah Allah yang disebutkan dalam Surat An Nahl : 78 pada hakekatnya hnya merupakan sebagian saja, karena secara global anugerah Allah itu dapat dipaparkan dalam 5 macam :

  1. Hidayatul Gharizah: Yakni anugerah Insting, seperti halnya bayi menangis karena pantasnya
  2. Hidayatul Hawasy: Artinya anugerah Panca Indera
  3. Hidayatul Aqli: Yakni anugerah Akal Pikiran.
  4. Hidayatul Din: Artinya anugerah Petunjuk Agama.
  5. Hidayatul Irsyad wa Taufiqi: Yakni anugerah Pengarahan dan Bimbingan.

Anugerah Petunjuk Agama belum bisa menjamin manusia mampu melaksanakan tugas hidupmya, karena petunjuk agama itu hanya disampaikan saja sehingga tergantung manusianya, maukah mengikuti petunjuk agama atau tidak. Karena itu, bagi manusia masih diperlukan lagi anugerah Pengarahan dan Bimbingan langsung dari Allah SWT.

 

PENDAPAT Prof. ENDANGSAIFUDDIN ANSHAR

Agar dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi, maka manusia telah diberi oleh Allah 3 macam anugerah :

  1. Perangkat Hidup seperti disebutkan dalam Surat An Nahl : 78.
  2. Perbekalan atau Perlengkapan Hidup berupa sumber daya alam.
  3. Petunjuk Hidup berupa ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

Jika meminjam istilah agama, maka anugerah Allah yang pertama dpat digolomgkan dalam istilah “ Nikmat Mauhibi “, artinya nikmat yang diberikn oeh Allah kepad manusia secara gratis dan tinggal pakai. Sementara anugerah Allah yang kedua dapat digolongkan dalam istilah “ Nikmat Kasabi “, yakni nikmat yang tidak diberikan secara gratis, sehingga manusia dituntut untuk memiliki daya saing yang tinggi agar dapat memperolehnya dengan sebanyak-banyaknya. Sejarah telah membuktikan bahwa bumi ini dalam bidang apapun pasti dikuasai oleh suatu bangsa yang SDM-nya jauh lebih tinggi dan penguasaan IPTEK-nya jauh lebih maju, sedangkan bangsa yang SDM-nya rendah dan tertinggal pasti menjadi jajahannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Adapun anugerah Allah yang ketiga dalam satu sisi merupakan Nikmat Kasabi, karena manusia diberi hak memilih diantara mau mengikuti petunjuk hidup yang tertuang dalam ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasul atau menolaknya. Tetapi dalam sisi lain tergolong Nikmat Mauhibi, karena pemberian petunjuk hidup itu merupakan hak prerogatif Allah sehingga Rasulullah sendiri hanya diberi hak untuk menyampaikannya saja, bukan memberikannya.

 

http://cintailmuku1.blogspot.com

http://didik-setiya.blogspot.com/2012/03/manusia-sebagai-khalifah-dibumi.html

 

 

 

Tentang jackliss

hamba Allah
Tulisan ini dipublikasikan di ISLAM. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s